Jumat, 05 Oktober 2012

serba serbi Qurban


-IGCC-

hayyoooww..siapa yg tau apa itu 'Qurban' ..

Beberapa sumber menyebutkan, bahwa istilah qurban atau Idul Qurban yang diserap oleh bahasa Indonesia pada mulanya terpengaruh oleh dialektika orang Persia atau Afghanistan. Di sana Idul Adha populer dengan sebutan Eyde Ghorban atau Id Qorban. Hal ini dapat dimengerti, karena jalur penyebaran Islam di Indonesia memang banyak terpengaruh oleh dialektika Persia. Seperti istilah ibadat, sholat, zakat. Jarang dibunyikan dengan ibadah, sholah, zakah dan sebagainya seperti dialeknya orang Hijaz.
Istilah qurban sendiri sebenarnya telah lama dipakai oleh ummat Kristiani. Sementara literatur Islam lebih banyak pakai istilah udlhiyyah. Udlhiyyah adalah sembelihan pada hari raya Idul Adha dan ayyam at-tasyriq. Ummat terdahulu menggunakan istilah qurban untuk beberapa tujuan, pertama;  sebagai ihda', persembahan atau yang populer dengan istilah sesajen atau semahan. Kedua; sebagai washilah, yaitu sarana/ alat untuk mendekatkan atau mempertemukan hajat tertentu kepada Tuhan. Dari sini lahir istilah korban persembahan, korban bakaran, korban curahan, korban sembelihan dan istilah sejenis lainnya dalam kitab suci ummat Kristiani. Ketiga; sebagai tebusan atau fidaa' yaitu membayar kesalahan alias denda, misalnya karena melanggar aturan atau norma tertentu.

Dalam kamus-kamus standar dikatakan, bahwa qurban secara bahasa memiliki banyak saluran, bisa melalui jalur sholat, jalur amal taat, sedekah dan sejenisnya. Intinya tidak melulu binatang. Pada masa-masa awal; qurban boleh dengan selain binatang. Qurban zaman dulu, bisa dengan benda apa saja yang paling dicintai atau punya nilai harga yang istimewa. Bisa dengan shadaqah atau 'athiyah (barang pemberian,persembahan) secara umum. Kendatipun demikian, praktek qurban dari zaman ke zaman sampai zaman Pra-Islam, selalu pakai binatang, demikian Tafsir Ibnu 'Abbas terhadap surah al-Hajj:37.

Namun qurban dengan hewan atau dengan 'athiyah secara umum dari awal disyari'atkannya tetap dengan jenis yang terbaik dan tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala  atau tidak sah dilakukan oleh orang yang kafir/musyrik, seperti diisyaratkan dalam Al An'am:136, 138, meskipun pada kenyataannya praktek qurban dilakukan oleh semua agama.

Pergeseran Ritual. Dari zaman Nabi Ibrahim lama kelamaan, tradisi qurban dikaburkan oleh orang-orang  Jahiliyah. Dari berqurban dengan binatang menjadi mengurbankan anak perempuan dengan cara dikubur hidup-hidup dan memandang baik penyimpangan praktek qurban seperti ini. Dari menyebut nama Allah Ta’ala ketika menyembelih, menjadi menyebut nama berhala dan patung-patung. Dari tujuan menuju Tauhid beralih pada tujuan tawassul kepada berhala. Dari takbir ketika menyembelih menjadi mengelilingi binatang qurban. Al Qur'an menyebut pengaburan praktek qurban ini dengan istilah iftira'an (Al An'am:138, 140). Saat itu daging hewan Qurban hanya boleh dinikmati oleh orang-orang berkelas. Biasanya mereka lakukan pada bulan Rajab, bukan Zulhijjah, doeloe namanya Fara' dan 'Athirah yang kemudian dihapus oleh Islam. Termasuk orang yang berkelas ini adalah patung-patung dan  berhala yang digantung di Kiswah Ka'bah. Darah hewan qurban mereka siramkan ke sekeliling Ka'bah sambil berthawaf dalam keadaan telanjang (Tafsir Al Hajj:36-37).
     
Dari perkembangan istilah qurban ini dapat disimpulkan, bahwa qurban ummat Islam piur tauhid, seperti tercermin dalam doa sembelihan bismillaahi Allaahu Akbar. Sedang qurban ummat tempo dulu piur dewa, sarat dengan bau pagan, kental dengan mistik dan ritual syirik. Inilah perbedaan esensil qurban dalam Islam dengan qurban agama lain yang

Allah Ta’ala firmankan dalam ayat Fashalli lirabbika wanhar. 'Adi bin Tsabit mengatakan, ciri khas qurban ummat ini karena dikaitkan langsung dengan ibadah, tidak hanya peringatan atau sekedar perayaan tahunan. Syeikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab memasukkan qurban sebagai bentuk ibadah yang tidak sah selain untuk Allah Ta’ala (sumber:Tafsir Al Muharrarul Wajiz, 2:274 dan Majmu'ah Rasa'il Fit Tauhid wal Iman, hal.379)

Yang Bukan Udlhiyyah. Tidak bisa disebut udlhiyyah; hewan sembelihan yang biasa perjual-belikan di pasar atau di supermarket, yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Tidak termasuk udlhiyyah binatang sembelihan untuk hajat tertentu, meskipun niatnya ikhlas atau sengaja diniatkan untuk qurban. Karena udlhiyyah berkaitan dengan syarat dan rukun tertentu, seperti syarat kemampuan, umur dan jenis binatang, syarat agama bagi mudhahhi dan mustahiq, do'a, syarat waktu /tempat dan seterusnya.

Niat udlhiyyah tidak boleh ganda; misalnya selain diniatkan untuk qurban juga diniatkan untuk 'aqiqah, selain diniatkan untuk diri sendiri juga diniatkan untuk orang tua, selain diniatkan untuk yang masih hidup juga untuk yang sudah mati. Ini tidak boleh, karena masing-masing amal punya niatnya sendiri-sendiri (Wazarat Al Auqaf was-Syu'un Al-Islamiyah, Al Mausu'ah Al Fiqhiyah. Kuwait: 1404/1983, Juz 5:74)

Tidak termasuk udlhiyyah, menyembelih binatang lalu membagi-bagikannya pada korban bencana alam, meskipun diniatkan untuk ibadah. Ini karena binatang itu disembelih di luar waktu yang disyariatkan. Tidak juga termasuk qurban mengganti binatang qurban dengan uang, seperti mengganti hadyu/dam haji tamattu' dan haji qiran dengan uang.  Sebab inti qurban adalah ihraaqu ad-daam, menumpahkan darah makanya disebut udlhiyyah; menyembelih. Mengganti qurban dengan uang akan menghilangkan syiar qurban dan menghapuskan jejak sejarah para Nabi, meniadakan syiar takbir ketika menyembelih, syiar mudhahhi-mustahiq, sunnahnya makan daging qurban, dan seterusnya. Jangankan menggantinya dengan uang, menyembelihnya saja di luar waktu bukan termasuk udlhiyyah.

Tidak termasuk udlhiyyah berqurban dengan jenis binatang yang tidak dicontohkan, seperti dengan hewan lain di luar yang ditetapkan syariat  seperti kuda, kerbau atau ayam sesuai petunjuk Al Qur'an, Al Hajj:28,34. Para Sahabat tidak pernah mempraktekannya dan tidak ada nukilan keterangan yang membolehkannya. Jika ada keterangan, niscaya keterangan itu tidak punya sandaran riwayat yang bisa dipertanggungjawabkan.

Masa'il Qurban. Qurban adalah ibadat tahunan. Sifatnya selalu berulang, sehingga menjadi moment penting yang nilai keutamaan, fungsi dan kedudukannya; teramat sayang bila dilewatkan. Karena selalu berulang, qurban harus dipersiapkan sejak awal, seperti halnya aspek pendanaan haji, nikah, 'aqiqah, dan hajatan syar'i lainnya melalui sistem menabung atau mencicil. Pengurus Masjid, Musholla dan Majelis Ta'lim adalah pihak yang paling berhajat dengan sistem ini untuk meningkatkan perolehan mudhahhi dari tahun ke tahun. Jangan jadi mustahiq terus, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Hubungan mustahiq-mudhahhi, sepertinya harus diupayakan dalam bentuk legalisasi ikatan, supaya tradisi pembagian zakat fithrah dan pendistribusian daging qurban tidak melulu bagai jatah tahunan fakir-miskin. Sehingga masjid baru ramai diserbu jama'ah, di kedua hari raya tersebut saja. 

Sesuai dengan perkembangan zaman, qurban pun mengalami proses pergeseran atau persintuhan pemikiran. Ada sebagian pihak yang mencoba otak-atik; bagaimana jika qurban itu pakai uang saja, dagingnya dijual lalu hasil penjualannya baru disampaikan pada fakir-miskin. Dalam tataran pemikiran, pendapat seperti ini sah-sah saja. Namun dimensi ta'abbudi qurban, tidak mengijinkan pemikiran seperti tadi untuk dianut.

Pemikiran lain yang patut diupayakan ke depan adalah, qurban buat orang yang sudah meninggal, khususnya antara anak dengan orang tua atau sebaliknya, sebagai amal baktinya terhadap almarhum, meskipun sudah beda alam.

Para ahlul Ilmi mensyaratkan bolehnya qurban atas mayit jika:
(1). Dilakukan oleh anak terhadap orang tua,
(2). Dananya diambilkan dari harta mayit, sebagian maupun seluruhnya, atau tidak sama sekali jika masih senasab
(3). Tidak masalah ada atau tidak ada wasiat sebelumnya,
(4). Pelakunya sudah pernah berqurban.
(5) Tidak disembelih di tempat yang diharamkan, tempat najis atau mengundang pada kesyirikan.

Demikian hasil penelitian Dr. Sa'îd bin 'Ali bin Qahf Al-Qahthâni dalam kitabnya, "Ahkâmul Janâ'iz." Syeik Qahthani mencatat bahwa  ada sekitar 4 ayat Qur'an yang secara umum membolehkan dan menyatakan sampainya pahala amal antara orang yang hidup kepada orang mati, yaitu: surah al-Hasyr:10 (berbentuk do'a), surah Muhammad:19 (berbentuk istighfar), surah Nuh:28 (berbentuk do'a), surah Ibrahim:41-42 (berbentuk do'a). Sedang dalam hadits, ditemukan ada sekitar 23 hadits shahih yang membolehkan dan menyatakan sampainya pahala amal antara orang yang hidup kepada orang mati dengan beberapa persyaratan di atas.

Hal lain yang perlu diupayakan adalah anak yang ketika bayinya belum di'aqiqahkan oleh orang tuanya karena satu dan lain hal, kini dapat menggantinya dengan qurban, bukan dengan 'aqiqah lagi, sebab waktunya sudah lewat dari yang ditetapkan pada hari ke-7,14 dn 21 dari kelahiran bayi. Dalam fatwa para Ulama, tidak boleh 'aqiqah untuk diri sendiri.

klo patungan..boleh g ya??

Qurban patungan model anak sekolahan, dalam tahap tarbiyah boleh-boleh saja, namun tetap dijelaskan oleh guru-gurunya bahwa ini bukan qurban yang diinginkan syariat. Ini sedekah, sedang qurban lebih baik dari sedekah.

Ke depan, program pembinaan mustahiq dan mudhahhi oleh para pengurus masjid, musholla dan majelis ta'lim seoptimal mungkin hendaknya diupayakan dalam bentuk forum silaturrahim. Syariat qurban adalah potensi besar untuk melakukan penggalangan kekuatan dalam rangka mempercepat usaha ke arah pencerdasan ummat.

Jumat, 28 September 2012

hikmah tidak minum sambil berdiri

-IGCC-

Rasululah SAW bersabda,
"Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri."
Qatadah berkata,
"Bagaimana dengan makan?
Rasul menjawab,"Itu lebih buruk lagi."
(HR) Muslim dan Tirmidzi).

Dalam suatu kajian kesehatan akupunktur telah dibuktikan bahwa air minum yang masuk dengan cara sambil duduk akan disaring oleh sfringer.
Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.

Nah, jika kita minum berdiri, air yang kita minum tanpa disaring lagi.

Air akan langsung menuju kandung kemih. Jika langsung menuju kandung kemih, maka akan terjadi pengendapan di saluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal.

Islam sendiri memberikan petunjuk dan jalan kebaikan di dalamnya. Seperti halnya minum, Islam mengajarkan bagaimana tata cara minum. Para ulama juga menegaskan bahwa minum sambil duduk lebih utama daipaada minum sambil berdiri. Kemudian dipertegas lagi hadits sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
"Janganlah di antara kalian minum sambil berdiri, bila terjadi maka muntahkanlah airnya."
(HR. Muslim)



*banyak sumber

Kamis, 27 September 2012

Rohis Disudutkan, Tawuran Membuktikan!


-IGCC-

BELUM selesai telinga kita mendengar tudingan miring yang dilayangkan oleh sebagian pihak kepada kegiatan elemen Kerohanian Islam (Rohi), kini jagad pendidikan negeri kita kembali diguncang dengan kasu. tawuran pelajar antara siswa SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta, di kawasan Bulungan, tidak jauh dari Blok M Plaza, pada Senin (24/9) kemarin.
Tawuran ini menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena bacok di bagian dada.

Menurut saksi, ketika tawuran terjadi, Alawy saat itu sedang makan gulai di tikungan Bulungan. Melihat ada tawuran, dia lantas berlari menyelamatkan diri bersama teman-temannya. Namun naas terjadi. Dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia. (detik.com/25-09-2012)

Peristiwa ini membuktikan, betapa menyedihkannya pendidikan negara kita. Terutama masalah karakter. Aspek ‘pendidikan akhlak’ dan ‘budi pekerti’ terhadap siswa di sekolah masih sangat kurang. Bayangkanlah bersama, seorang pelajar dengan bangga membawa clurit dan melukai orang lain hingga meninggal. Pantaskah ia disebut orang terpelajar atau berpendidikan?

Lebih ironisnya, peristiwa ini terjadi selang sehari setelah ribuan anak –anak Rohis melakukan aksi damai di bundaran Hotel Indonesia (HI), untuk menentang stigma teroris yang ditudingkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui salah satu stasiun televisi.

Peristiwa tawuran pelajar ini, sekali lagi membuktikan ada yang salah dunia pendidikan kita. Lagi pula semakin menunjukkan, ketidakseriuan pemerintah dalam memprioritaskan pendidikan dan membina karakter generasi bangsa.

Jujur saja, sebagai orang yang pernah melewati masa-masa belajar, aspek ‘pendidikan’ agama, satunya-satunya aspek yang dianggap paling bisa membangun karakter siswa, masih belum mendapatkan porsi yang relevan dalam sistem dan realita pendidikan kita.

Lihat saja, pendidikan agama di sekolah-sekolah umum masih sangat minim. Hanya 2 jam pelajaran saja per pekan. Dengan porsi seminim ini, tentu sangat sulit bagi pemerintah untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter dan berdedikasi.

Pasalnya, di negara kita ini, bukan kali pertama mengenal istilah ‘tawuran pelajar’, fenomena tawuran ini bahkan sudah sangat akrab di kalangan siswa-siswa kita. Terutama para pelajar SLTP, SMK dan bahkan mahasiswa.

Tawuran pelajar ini jelas tindak premanisme dan teror. Karena sudah meresahkan masyarakat luas. Apalagi sudah memakan korban jiwa. Apapun kegiatan yang meresahkan dan menimbulkan rasa tidak aman bagi masyarakat jelas-jelas teror.

Sungguh berbanding terbalik dengan kegiatan anak-anak Rohis di masjid-masjid sekolah mereka.

Sayang, para stake-holder negeri ini, lebih curiga pada anak-anak di masjid daripada yang membawa clurit di jalanan. Para pelajar yang mendapatkan ekstra-kurikuler keagamaan di luar jam pelajaran resmi sekolah dalam bentuk Rohis yang sangat concern terhadap dakwah Islam, da sepengetahuan dan pengawasan pihak sekolah justri lebih dicurigai dan mendapat stigma.

Bahkan, Rohis yang diajari bertindak sopan pada guru, orangtua, taat beribadah, justru pernah diusulkan dilarang.


Kajadian tawuran pelajar yang baru saja terjadi telah membuktikan pada kita semua bahwa Rohis adalah solusi, bukan polusi. Karenanya, ia harus menjadi salah –satu alternative agar mampu menjadi problem solver dari fenomena-fenomena tawuran, seks bebas, narkoba, minuman keras dan semacamnya di kalangan remaja kita.

Sekali lagi, musibah ini, semakin membuktikan, bahwa hanya pendidikan Islam-lah yang memiliki sistem dan konsep yang komperhensif dan integral dalam membina manusia. Dan bahwa hanya sistem pendidikan Islam yang Rabbaniyah-lah yang benar-benar bisa mendidik generasi bangsa menjadi generasi yang shaleh dan berdaya guna. Berkarakter dan unggul.

Peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, termasuk tawuran ini, juga membuktikan bahwa pendidikan sekuler yang di jalankan oleh negara selama ini hanyalah semu dan palsu. Yang dikhawatirkan justru akan sangat membahayakan negara pada suatu hari nanti.

Kini, saatnya pemerintah harus benar-benar mengkaji ulang implementasi pendidikan karakter dan budi pekerti di sekolah. Pemerintah, orangtua, lingkungan dan pihak sekolah harus secepatnya merealisasikan dan mengaodbsi kegiatan Rohis dalam pola kegiatan dan pembelajarannya. Karena hanya inilah sistem pendidikan yang bergaransi. yang telah melahirkan generasi-generasi unggul, berkarakter dan berdedikasi tinggi sepanjang peradaban ummat. Sebagai penutup, bukti sudah menunjukkan, “Rohis disudutkan, tawuran membuktikan!”


Kamis, 19 Juli 2012

Ramadhan: Pendekatan Diri Di Tengah Keterasingan (Alm.Rahmat Abdullah)

-IGCC-

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini –dibulan ini (Ramadlan)– ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan).

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau  jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan  “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an dihati.

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin.

Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.
Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius. ~KH. Rahmat Abdullah~

Selasa, 17 Juli 2012

Bagaimana Kabarmu Saudariku?

-IGCC-
Assalamu'alaikum cantik..

Bagaimana kabar rambutnya?
apakah masih terurai panjang hingga terkibar ditiup sang angin pagi, siang, dan malam? ataukah sudah tertutupi dengan kerudung yg menjulur panjang?

Subhanallah..
cantiknya ukhtyku yg tidak malu berhijab,
tak menampakkan aurat,
bahkan sehelai rambut pun tak terlihat,
menjadi muslimah yg taat pada syari'at.
kalah deeh tuh turis artis barat..


Bagaimana keadaan badanmu, tambah berat atau tambah ringan?
masih pusing mikirin berat badan?
karena takut dibilang cacingan atau kebanyakan makan, ..
atau telah tertutupi dengan jilbab yg menjulur panjang
hingga menutupi seluruh badan.
lebar dan tak transparan agar tak nampak bentuk badan,
tak mencolok dan bukan untuk pameran sekedar dapat pujian dari ikhwan..
kan kan kan..
Dah ga jaman juga tuh parfum yang menyengat hingga sekalian alam..

Subhanallah..
ukhtyku sungguh luar biasa..
kini, lengkap pakaian muslimahnya,
dengan jilbab dan kerudung yg rapi,
dan tak malu lagi dibilang : "mau ke kampus atau ke pengajian sih?".
bilang aja ukh, "yg penting syar'i..".
 atau ajakin aja sekalian ngaji..


Assalamu'alaikum saudariku yg disana..
buruan pake jilbab dan kerudungnya.
ga takut ya kalo nanti ga bisa nyium bau surga?

masalah pribadi yg belum bener, ntar nyusul aja ukh..
sambil benahi diri dikit demi dikit sambil lalu...
kalo nunggu pembenahan diri dulu baru pake hijab, ntar dosanya dobel tuh!

ukhty, semoga kita istiqomah ya,
dengan jilbab dan kerudungnya.
smoga Allah merahmati kita,
salam sayang dari saudara yg begitu menyayangimu karena Allah.


Ghina Zafira 
blog 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...