Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Tahun Baru 1435 H, Momentum Hijrah, Renungan Spiritual di Akhir Tahun

-IGCurup- Detik berganti, sembari mengantarkan 1434 H ke penghujung tahun. Dzikir akbar di mana-mana, Istighosah dan Muhasabah membahana. Tak ketinggalan, pengajian dan agenda mabitpun bertebaran. Tak ada yang salah dengan fenomena ini. Ada maslahah mursalah di sana. Mengingatkan manusia bahwasanya waktu terus berputar, dunia menua dan akhiratpun semakin mendekat. Lekat.

Namun semestinya, bukan hanya di momen pergantian tahun ini kita merefleksikan hidup kita, untuk apa usia kita habiskan, kegiatan apa yang kita gunakan untuk mengisi waktu luang dan sejauh mana perintah Yang Maha Rahman telah kita kerjakan. 

Untuk saat ini mari kita sejenak renungkan hari-hari yang telah kita lalui.

Mari sama-sama kita simak tulisan dari Syaikh Aidh Al Qarni, mengenai hal ini;

  •   Tahukah anda bahwa diatas kepala Rasulullah Saw pernah diletakan isi perut hewan, kedua tumitnya berdarah, gigi serinya dirontokan, kepalanya terluka, dan orang-orang yang disayanginya terbunuh? Beliau mengikat perutnya  dan mengganjalnya  dengan batu karena kelaparan, mengalami kekalahan dalam sebagian peperangan, lambungnya yang suci tidak luput dari cobaan, pernah disekap, pernah mendengar cacian dikedua telinganya, melihat dengan mata kepala sendiri berbagai tipu muslihat yang ditujukan kepada dirinya, diusir dari kampung halamannya dan  dituduh gila, tukang sihir dan tukang ramal
  •  Tahukan anda Umar r.a di tusuk dimihrab dan tubuhnya dirobek dengan tombak kecil. Usman r.a darahnya mengalir membasahi mushaf yang dibacanya karena pedang pemberontak, saat itu ia berusia 80 tahun. Adapun Ali r.a dipukul pelipisnya dengan pedang oleh orang Khawarij,  darah mengalir  membasahi jenggotnya.
  •  Tidakkah anda tahu bahwa Ahmad bin Hanbal dijebloskan kedalam penjara, dicambuk dengan cambuk yang melukai, dilarang mengajar, dan ditakut-takuti akan dibunuh. Ibnu Taimiyah dijebloskan kedalam penjara.  Darahnya dialirkan, kehormatannya dilecehkan,  dan  agamanya  dicurigai.
Itulah sekelumit perjuangan pendahulu, dan kita yang duduk di masjid ini, atau di rumah tentunya tidak akan mengalami seperti apa yang digambarkan diatas. Namun demikian perjuangan menegakkan kalimah Allah tidak pernah terputus karena musuh-musuh Allah baik dalam bentuk jin dan manusia terus bergerak secara dinamis mengikuti dinamika umat.  Makin kuat komitmen terhadap kalimah “laa illaha ilallah”, maka makin kuat pula tekanan yang diberikan oleh musuh-musuh Allah. Ini adalah sunatullah. Sebaliknya, lemahnya kalimah “laa illaha ilallah” lemah pula tekanan yang diberikan, karena bercampurnya antara ketauhidan dengan syirik, ketaatan dan kemunafikan, semuanya menjadi kabur maka bersukarialah para musuh Allah karena tujuannya tercapai.
Oleh karena itu momen perenungan harus diikuti dengan instropeksi terhadap diri masing. Jika kita simak peringatan Allah Swt :
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,
 (Qs Al Hasyr : 18).
Ini bermakna, hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lihatlah apa yang telah kamu tabung untuk diri-diri kamu, berupa amal-amal saleh, untuk hari di mana kamu akan kembali berhadapan dengan Tuhan-mu (tafsir Ibnu Katsir). Sudah menjadi kebiasaan setiap peringatan hijrah para khatib selalu mengingatkan umat untuk melakukan instropeksi demikian juga  berbagai tulisan mimbar Jum’at di media cetak  mempunyai anjuran yang sama. Tetapi jika kita mau merenung lebih jauh lagi sebenarnya untuk memeriksa diri (muhasabah)  tidak perlu sampai akhir tahun tetapi setiap waktu sholat kewaktu sholat adalah proses memeriksa diri. Bukankah setiap shalat kita mengucapkan kalimat istighfar yaitu mohon ampun dan bertobat. Allah Swt berfirman
“dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang yang beriman supaya kamu beruntung.  (Qs An Nur : 31).
 Taubat ialah meninjau perbuatan dengan menyelesalinya setelah dikerjakan. Umar r.a memberi contoh,  ia memukul kedua kakinya dengan cemeti apabila malam telah larut  seraya berkata kepada dirinya, “apakah yang telah kamu perbuat hari ini.” Dengan penjelasan ini, maka moment peringatan hijrah merupakan instropeksi tahunan disamping instropeksi harian yang muaranya membentuk umat yang benar-benar bertaubat dan selalu mawas diri.Ibnu Qayyim Al Jauziyyah da-lam bukunya “Melumpuhkan   Syetan” memberi tuntunan untuk memeriksa diri  sebagai berikut :
  • Hendaknya ia menghisab dirinya dalam hal-hal yang wajib, jika ia ingat ada yang ditinggalkan maka ia harus menyusulnya, baik dengan qadha atau dengan perbaikan.
  • Hendaknya ia menghisab dirinya dalam hal-hal yang dilarang. Jika ia mengetahui ada sesuatu yang dilanggar maka hendaknya ia segera menyusulnya dengan taubat, istighfar dan berbagai kebaikan yang menghapus dosa.
  • Hendaknya ia menghisab atas kelalaian dirinya. Jika ia lengah tentang untuk apa ia kerjakan maka hen-daknya ia menyusulnya dengan dzikir, menghadap kepada Allah.
  • Hendaknya ia menghisab apa yang telah dibicarakan, atau kemana kakinya melangkah, atau apa yang di-ambil oleh kedua tangannya, atau apa yang di dengar oleh kedua telinganya. Semuanya dihisab dengan tiga pertanyaan :
a.     untuk apa dilakukannya, 
b.     untuk siapa dan
c.      dasar apa dilakukan semua itu ?
Memeriksa diri bukan pekerjaan mudah, tetapi harus dilaksanakan bukan diremehkan,  jika tidak dilaksanakan akan menghantarkan seseorang kepada kehancuran. Dan itulah orang orang-orang yang terperdaya menutup mata dari segala akibat, menantang keadaan dan bersandar ha-nya pada ampunan.   Seandainya saja ia mengikuti kebenaran, niscaya ia akan tahu bahwa penjagaan nafsu lebih mudah dari pada meliarkannya.
Mudah-mudahan perenungan semangat hijrah ini menambah ketakwaan kita kepada Allah Swt . Amin
Wallahu ‘alam bish shawab (red)

Doa Kita untuk Mereka

“Sejak dulu kami menyepakati,” demikian tulis Imam Ahmad ibn Hambal, 

“jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Tidak menghina orang baik, itu perkara yang wajar adanya. Akan tetapi, tidak menghina mereka yang (sedang) tergelincir dosa, butuh kesungguhan juga. Ini bukan pekerjaan sederhana. Betapa sering kita memperolok orang lain yang sedang terpeleset dan berperkara. Mengejek mereka sambil memicingkan sebelah mata. Alih-alih menginstrospeksi diri, kita malah menyibukkan diri untuk menjadikan mereka yang tergelincir dalam kekhilafan sebagai bahan gunjingan. Maka, sekali lagi, betapa sering kita dengan sikap jumawa mempertanyakan, “Kok bisa dia berbuat sekerdil itu?” Seakan kita merasa sangat yakin bahwa kita akan mampu melampaui ujian serupa. Sungguh, hanya kepada Allah kita memohon pada Allah agar mengistiqamahkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya.

Ketika seseorang menghina saudaranya yang tergelincir kedalam kesalahan, pada saat bersamaan ia sedang menggelincirkan diri pada kesalahan yang bersebab kesombongan. Jumawa bahwa dirinya lebih baik. Sungguh perkataan Sufyan bin Uyainah patut kita renungkan. 

“Siapa yang kemaksiatannya terletak pada syahwat, maka taubat bisa diharapkan darinya. Sebab Adam a.s. bermaksiat karena keinginan syahwat, ia bertaubat lalu diampuni. Sementara jika kemaksiatannya terletak pada kibr (kesombongan), maka aku khawatir ia sebagai orang yang dilaknat. Iblis bermaksiat karena kesombongan karenanya ia dilaknat.” 

Begitulah yang terjadi, ketika seseorang menghina saudaranya yang tertimpa kesalahan, ia sendiri tidak menyadari bahwa penghinaan yang dilakukannya adalah kesalahan yang lebih parah. Apa yang diperoleh dari menghina? Pahala dari Allah berupa jaminan surgakah? Atau bertumpuknya keburukan dan kehinaan diri? Alangkah indah manakala kita bersibuk menelisik diri daripada menguliti saudara sendiri.

Suatu hari Sufyan bin Al-Hashin duduk berbincang dengan Iyas bin Mu’awiyah. Ketika melintas seorang anak muda, Sufyan menuturkan keburukan anak muda itu. Iyas bin Mu’awiyah lalu mencergahnya dan mengatakan, 

“Diamlah wahai Sufyan, apakah engkau pernah terlibat dalam pertempuran melawan Romawi?” Sufyan menjawab tidak pernah. Kembali Iyas bin Mu’awiyah bertanya pada Sufyan bin Al-Hashin. “Kalau begitu pernahkah engkau ikut dalam perang melawan pasukan Tatar?” Kembali Sufyan menjawab tidak sambil menggelengkan kepala. “Orang Romawi dan orang Tatar selamat dari keburukan lisanmu,” demikian kata Iyas bin Mu’awiyah, “tapi, seorang Muslim cedera karena lisanmu!” 

Sungguh ada banyak hal yang patut dibanahi dari diri kita hari-hari ini. Ketika media mempermudah jangkauan untuk mengetahui ruang-ruang pribadi seseorang, seringkali kita menjadi latah untuk mengomentari. Kita pun menjadi tak sadar sedang digiring ke arah tradisi pergunjingan yang tiada manfaat. Kita mendadak menjadi gampang mencela dan mudah dibuat kecewa pada hal-hal yang tidak terlalu penting. Betapa hal-hal demikian sangat menguras energi dan mudah membelokkan orientasi; dari semangat beramal ke arah hasrat pergunjingan. Na’udzubiLlahi min dzalik.

Alangkah menusuk nasihat Ibnu Athaillah As-Sakandary. 

“Betapa banyak kemaksiatan yang mewariskan rasa hina dan rendah di hadapan Allah ta’ala,” tuturnya. Beliau lalu melanjutkan, “Sungguh, itu lebih baik dari ketaatan yang mewariskan sikap merasa mulia dan sombong.” 

Begitulah kearifan sikap dinasihatkan pada kita. Agama ini melarang seseorang untuk mencaci dan menghina orang yang melakukan kesalahan. Pada yang berdosa saja kita tak boleh mencelanya, apalagi pada mereka yang kesalahannya belum diputuskan benar tidaknya. Puncak tertinggi dari masyarakat Muslim adalah menegakkan hukum sesuai yang dituntukan Allah, dan bukan menyibukkannya dengan cacian dan hinaan. 

Bukankah kita tak mengetahui jalan cerita kehidupan seseorang? Bukankah telah bertabur banyak tauladan, mereka yang pernah tergelincir dalam kekhilafan ternyata mampu menuntaskan kehidupannya dalam kebaikan. Yunus pernah terjerat khilaf. Ketika ia berdakwah di Ninawa dan yang ia temukan hanyalah pembangkangan. Hilanglah sabarnya. Ia pergi meninggalkan Ninawa sebelum diperintakan-Nya. Sang Nabi ‘mutung’. Lalu, ia ditelan ikan. Setelahnya ia menginsyafi seluruh kesalahannya dengan doa (Qs. al-Anbiyaa’ [21]: 87). Ia tak lagi dalam hina. Yunus bertabur kemuliaan. Kisah hidupnya menjadi teladan, maka Quran mengisahkan.

Sungguh, tak akan terhina orang yang dimuliakan Allah karena taubatnya setelah khilaf. Tak akan mulia orang yang dihinakan Allah bersebab jumawa yang ditempuhnya dalam taat.

Pada mereka yang keluarganya sedang didera ujian, doakan semoga lekas terurai masalah. Jangan memperolok dan menghinakannya. Kita tak berharap ujian serupa ditimpakan atas diri kita. Begitu pula pada mereka yang gagal menghadapi ujian kehidupan dari Allah, kita panjatkan doa agar Allah menyayangi mereka yang berusaha memperbaiki diri. Berdoa pula agar kita istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya, lalu menuntaskan tugas hidup kita dengan khusnul khatimah.

Sabtu, 02 November 2013

Himmah (Cita) Seorang Da'i


Secara bahasa himmah biasa diartikan cita-cita. Namun bila kita dalami dan kita selami maknanya, ia bisa berarti sesuatu yang senantiasa hangat dan ada dalam pikiran kita. 

Di siang hari, ia senantiasa dipikirkan, di malam hari, ia terus diimpikan. Ia terus ada dan menyatu dengan jiwa, kemanapun pergi, ia selalu di bawa. Dimanapun berdiam, ia tidak lantas tiada. Ia terus mewarnai setiap langkah dan gerak, atau istilah shufi-nya: ia selalu muncul dalam setiap sakanat dan harakat kita.

Himmah juga mempunyai keterkaitan dengan kata hamm yang bentuk jamak (plural)-nya adalah humum yang secara mudah biasa diterjemahkan: kesedihan. Ia memang demikian, artinya: seseorang yang mempunyai himmah sesuatu, ia akan terus merasa sedih dan tidak akan (bahkan tidak mau) mengecap sedikit kebahagiaan manakala apa yang menjadi himmah-nya itu belum kesampaian. Dan puncak kebahagiaannya adalah saat ia berhasil mewujudkan apa yang menjadi himmah-nya itu.

Bila da'wah telah kita definisikan sebaai upaya untuk mempengaruhi, dan mengajak mad-'u ke jalan Allah swt, jalan Islam, jalan nabi Muhammad saw, maka himmah seorang da'i bisa kita artikan sebagai kesedihan sang da'i dan ke-"tidak-mauannya" untuk mengecap sedikitpun kebahagiaan manakala belum berhasil membawa seorang manusiapun kepada jalan hidayah, jalan Allah swt, jalan para nabi, shiddiiqin, syuhada' dan shalihin. Ia baru merasa puas, bahagia, dan gembira manakala telah berhasil menjadi penyebab terhidayahinya seorang manusia untuk memeluk Islam, hidup dengannya dan mati dengan tetap menyandang predikat muslim.

Namun, sebagai seorang muslim yang menyadari perannya sebagai ujung tombak khaira ummatin ukhrijat linnaas, yang salah satu karakternya adalah ta'muruuna bil ma'ruuf watanhauna 'anil munkar, himmah sang da'i itu tidak berhenti manakala telah sukses menjadi penyebab terhidayahinya satu orang. Himmah itu akan kembali muncul dalam dirinya dan akan terus muncul sehingga ia kembali kepada Allah swt.
Himmah seperti ini telah digambarkan oleh beberapa kisah yang ada di dalam Al Qur'an.

Diantaranya adalah kisah burung Hud-Hud-nya nabi Sulaiman 'alaihis-salam.
Al Qur'an menceritakan bahwa burung yang kecil itu, yang tidak mampu terbang jauh, telah melakukan perjalanan yang sangat jauh, dari Palestina (negeri nabi Sulaiman 'alaihis-salam) ke negeri Saba' di Yaman (negerinya ratu Bilqis). Ia telah lalui hamparan padang pasir yang sangat luas, yang tidak mungkin berani melampauinya kecuali ash-habul himam al 'aaliyyah (pemilih himmah tinggi). Jangankan seekor burung Hud-Hud, manusia saja ngeper dan berpikir berkali kali untuk mengarunginya. Bukankah yang akan dilewatinya adalah padang pasir, yang sangat panas, sedikit air, sedikit makanan, dan kekerasan-kekerasan alam lainnya. Namun dengan semangat membaja, sang burung kecil itu melakukan perjalanan sejauh itu, dengan satu tujuan: memberi informasi kepada nabi Sulaiman 'alaihis-salam tentang negeri-negeri lain, yang bisa jadi, ia akan menjadi penyebab berimannya penduduk negeri itu.

Karena jaraknya yang sangat jauh, dan tentunya membutuhkan waktu lama untuk menempuhnya, maka sang burung itu absen dan tidak menghadiri majlis nabi Sulaiman 'alaihis-salam dalam waktu yang cukup lama. Dan karena absen terlalu lama, ketidakmunculannya itu menjadi tanda tanya nabi Sulaiman 'alaihis-salam.
Singkat cerita, akhirnya sang burung kecil itu muncul juga dan menyampaikan informasi yang didapatnya.
Untuk membuktikan kebenaran informasinya, sang burung mesti terbang ke negeri itu sekali lagi. Sungguh, himmah yang luar biasa. Dan tidak sia-sia, penduduk negeri Saba' itu akhirnya tunduk kepada nabi Sulaiman dan meninggalkan kemusyrikannya.
(Lihat kisah lengkapnya di QS An-Naml [27]: 16 – 44).

Ada lagi cerita lain yang tidak kalah menariknya. Kisah seorang lelaki, ya ... seorang lelaki, yang tidak dikenal, bahasa Al Qur'annya: Rojulun, yang datang dari aqshal madinah (wilayah kota yang paling ujung, paling jauh), yang datang dengan yas'a (berlari) demi memberikan pembelaan kepada rasul-rasul Allah swt. Dan karena pembelaannya itu ia dibunuh oleh kaumnya.

Di alam akhiratnya, ia merasakan betapa besar kenikmatan yang didapatkannya dari Allah swt. Lelaki yang dibunuh oleh kaumnya ini masih mengingat kaumnya, bukan dalam rangkan dendam, akan tetapi ... ungkapan empatinya yang sangat dalam kepada kaumnya, namun sayang, kaumnya tidak mengetahuinya. SubhanaLlah, sudah meninggal dunia, sudah di alam lain, himmah-nya sebagai da'i tidak padam juga. Sehingga meluncurlah kata-kata dari lisannya: ya laita qaumi ya'lamuun. Bima ghofaro li robbi wa ja'alani minal mukromin.
(kisah lengkapnya silahkan lihat di QS Yaa siin [36]: 13 – 30).

Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah ...
Masyarakat kita mayoritas adalah masyarakat muslim, diantara mereka ada yang membutuhkan tastsbit (pengokohan), dzikro (pengingatan), nasehat dan semacamnya. Untuk menjalankan tugas-tugas ini, sangat-sangat dibutuhkan adanya orang-orang yang memiliki himmah 'aaliyyah (himmah yang sangat tinggi), karenanya, asahlah himmah kita, barangkali akan ada satu dua orang yang terhidayahinya kepada jalan Islam, jalan Allah swt, dan kitapun akan mengenyam besarnya ganjaran Allah swt di akhirat nanti insya Allah. Amiiien.

Ust. Musyafa Ahmad Rahim, MA

Kamis, 11 Juli 2013

-IGCC- Ibadah Ramadhan ternyata bukan  penghalang bagi sebagian pesepakbola profesional. Kolo Habib Toure, pemain asal Pantai Gading menyatakan kegiatannya tak berbeda saat menjalani ibadah puasa.
Pemain yang kini merumput bersama Liverpool itu mengungkapkan, menjalankan ibadah puasa menguatkan mentalnya. Dan dia menyambut gembira datangnya bulan Ramadan.
Dalam wawancaranya dengan laman resmi klub di Melwood, Toure menyampaikan pentingnya arti puasa bagi dirinya. Ia menyatakan memperoleh banyak manfaat  dengan puasa.
“Anda diwajibkan tidak makan dan minum di siang hari selama 30 hari, mulai dari jam tiga pagi hingga sepuluh malam. Di waktu ini, Anda tidak bisa makan atau minum. Setelah matahari terbenam, Anda baru boleh melakukannya,” ujar Toure.
Menurut Kolo, ia selalu berpuasa di bulan Ramadan sekalipun aktif di sepakbola.
“Tentu saja berat. Tapi ketika Anda percaya kepada Tuhan, tak ada yang tak mungkin,” tambah kakak kandung dari Yaya Toure ini.
Bek sentral yang pernah merumput di Arsenal dan Manchester City ini menambahkan, dengan menjalankan ibadah puasa, secara tidak langsung dirinya meningkatkan sikap displin, dan mengendalikan mental. Ibadah ini juga tidak mengganggu program latihan yang diberikan klub.
“Anda butuh kedisiplinan. Bagi saya, lima hari pertama akan sulit, tapi setelah itu, tubuh sudah mulai beradaptasi, dan Anda merasakan kegembiraan. Bahkan Anda menjadi makin kuat setelah Ramadhan,” jelasnya.
Rencananya, selain tetap berpuasa selama Ramadan, pemain berusia 32 tahun ini juga ingin merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di Liverpool, dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka yang menjalankan ibadah puasa.
“Saya akan merayakannya seperti halnya kaum muslim yang lain – bersama keluarga saya, istri dan anak-anak saya,” ucap Toure. [islamedia]

Rabu, 10 Juli 2013

Syukurku, Telah Kau Sampaikan Aku Pada Sayyidus Suhur

-IGC- Dua bulan lalu, masih jelas dalam ingatan, di awal Rajab yang syahdu itu, jutaan muslimin di berbagai belahan dunia khusyuk dalam doanya,

“Ya Tuhan kami, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan

Dua bulan pula waktu yang telah dipergunakan untuk menyambut penghulu segala bulan. Mulai dari membiasakan shalat berjamaah di masjid, meningkatkan intensitas tilawatil quran, hingga berlatih melaksanakan puasa di bulan tersebut.

Rindu itu kini terbayarkan sudah. Semerbak Ramadhan telah memenuhi rumah-rumah, masjid-masjid, pusat perbelanjaan hingga jalanan. Wanginya tercium sudah. Senyum  dan salam bertebaran, Suara lantunan tilawah quran bersahutan. Ada syahdu di sana. Pengajian dan majelis ilmu membludak. Membludak jumlahnya, membludak pula jamaahnya. Stasiun TV berlomba untuk tampil seislami mungkin, turut memeriahkan, meski ada kesan komersiil tentunya.

Sanak-kadang berkumpul. Keluarga menyatu di atas meja makan. Canda, tawa dan riuh mengiringi dentingan suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Kebersamaan yang mahal bagi sebagian mereka yang tersibukkan dengan rutinitas sehari-hari, menjadi anugerah.

Memberi menjadi ringan, uang tak hanya tersimpan. Kotak-kotak amal penuh, lalu lintas transfer rekening meningkat pesat, para eksekutif turut menyisihkan rekening mereka untuk berderma. Lembaga-lembaga amal berlomba-lomba mengumpulkan dana, untuk disalurkan pada yang tak berpunya tentunya. 

Syukurku, terlantun lirih. Tarawih pertamapun terasa syahdu. 

Namun sejenak aku merenung, linglung. Maukah engkau turut dalam lamunanku kawan?
Ada yang aku khawatirkan, kalau-kalau kesan ini hanya sepintas. Hanya dari penglihatan zhahir yang menipu. Semerbak ini memang terlihat bahkan tercium di keramaian, tapi sudahkah ia mewangi di hati-hati kaum muslimin, di hatiku, di hatimu? Sudahkah ia memenuhi ruang-ruang hati yang telah lama mengeras sebab cintanya ia pada dunia? Rabbanaaghfirlaanaa…

Allah, Yaa Lathiif, lembutkan hati-hati kami untuk senantiasa takut padamu.
Yaa Rahman yaa Rahiim, kasihilah kami hingga kami mencintaiMu, mencintai utusanMu, mencintai kalamMu dan mencintai RamadhanMu ini melebihi cinta kami pada dunia.

Bila Ramadhan ini telah wujud dalam zhahirnya, mari kawan jadikan ia sebagai momentum untuk menghadirkan cinta kita pada Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Baca dan resapi KalamNya yang ia titipkan lewat kekasih kita Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

“Allahumma a’inna ‘alaa tilawatil qur-an,
Allahumma a’inna ‘alaa hifzhil qur-an.”

Cinta itu wujud tatkala engkau sibukkan hatimu untuk mengingat-Nya.
wujud cinta itu kala engkau bersegera memenuhi panggilan-Nya.

Allahu a’lam. (Red)

Selasa, 09 Juli 2013

8 Renungan Menjelang Ramadhan

-IGCC- Ramadhan tinggal menghitung menit Sob. Berikut, setidaknya ada 8 hal yang mesti menjadi renungan buat kita agar Ramadhan kita kelak lebih bermakna. Simak yuk!

Renungan pertama, mari kita renungkan untuk apa Allah menciptakan kita? Jawabannya ada di Adz Dzariyat 56, “Dan tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah untuk-Ku”. Jelas, hikmah penciptaan kita adalah beribadah kepada Allah (dalam makna yang luas). Al Imam Nawawi berkata, “Ini adalah penjelasan yang sangat jelas bahwa mereka diciptakan supaya beribadah pada Allah”. Maka kita harus berusaha menjadi sebagaimana pihak yang diciptakan. Kita sadari bahwa dunia akan habis, tidak kekal. Dunia hanya transit sebelum negeri kekal akhirat. Definisi ibadah bahkan mencakup segala hal yang mendatangkan cinta dan ridho Allah baik ucapan/perbuatan, lahir dan batin. Maka ibadah dikenal 2 macam : mahdhah (murni ibadah) dan ghairu mahdhah (semula bukan ibadah, tapi diniatkan untuk mencari ridha Allah, mendatangkan cinta Allah).

Renungan kedua: Kita renungkan betapa Allah telah memberikan nikmat usia hingga kita bisa sampai di detik-detik menjelang bulan mulia ini. Di luar sana, berapa rekan-rekan kita yang telah tiada, sedang Allah masih memberikan kita sisa usia. Sebuah kesempatan untuk membawa bekal, untuk taat. Karena umur adalah modal. Waktu seorang muslim sangat berharga. Mari manfaatkan hidup sebelum datang kematian. Kita manfaatkan sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, kaya sebelum miskin. Orang terbaik adalah orang yang umurnya panjang dan perbuatannya baik. InsyaAllah.

Renungan ketiga: Pentingnya ikhlas. Amal haruslah ikhlas, jika tidak maka percuma, karena Allah takkan menerima. Jadi, perbaiki niat kita. Kalau tidak ikhlas, terlanjur lelah payah tapi tertolak amalnya. “Orang yang mengamalkan suatu amalan lalu dia menyekutukan Aku dengan yang lain, maka aku tinggalkan ia”. Allah hanya menerima amal yang 100% untuk-Nya. Sebuah hadits, yang cukup menampar kita. Tiga kelompok yang dibakar di neraka oleh Allah, “Orang yang mengajarkan ilmu dan pandai membaca Al Qur’an; Orang yang dermawan; Berperang sampai syahid, ketiganya tidak murni niatnya, sehingga wajahnya ditelungkupkan dan diseret ke neraka. Mereka ingin dipuji didengar, atau amal akhirat digunakan untuk meraih dunia.” Para salafusholeh usai beramal selalu merenung, ‘Allah hanya menerima dari orang bertaqwa’. Maka selalu lah mawas diri, introspkesi diri.

Renungan keempat: Banyak berdzikir pada Allah Swt (Al Ahzab 41-42). Satu amalan yang bisa dijadikan
pegangan, “Lisanmu selalu basah dengan dzikir pada Allah”.

Renungan kelima: Ramadhan merupakan bulan Al Qur’an. Karena itu, bacalah dan pelajari Al Qur’an. Terlalu banyak kebaikan dengan Al Qur’an, takkan ada ruginya. Maka, minimal khatam 1 kali selama Ramadhan. Bacalah dengan tartil, perenungan, tidak cepat-cepat. Tidak akan sengsara orang yang menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan hidup.

Renungan keenam: Ramadhan adalah kesempatan berdakwah. Dakwah menjadi warisan akan tugas para Nabi dan Rasul, orang-orang yang berusaha memperbaiki. Ketika Ramadhan, jiwa-jiwa terbuka menerima nasehat. “Sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang melaluimu itu lebih baik daripada onta merah”. Berdakwah itu lebih bagus, dibanding hanya ibadah diri sendiri.

Renungan ketujuh: Hindari majelis yang sia-sia, tempat yang membuang waktu percuma dan tak ada faedahnya. Karena ini akan menjerumuskan kita pada murka Allah Swt. Isinya hanya ghibah, namimah, berbohong, dll. Sehingga seseorang terlibat dalam maksiat mulut, telinga, dll. Mari perbanyak amal sholeh. Modal kita adalah waktu. “Nikmat yang kebanyakan manusia meremehkannya, yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan”.

Renungan kedelapan: Mari jadikan Ramadhan sarana memperbaiki diri dan orang-orang sekitar. Allah berfirman dalam At Tahrim 6 , “Hai orang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Maka, jadikan Ramadhan sebagai sarana dan waktu untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dengan rasul, dengan orang tua, dengan masyarakat.”

Mari optimalkan amal baik. Semoga Allah selalu memberkahi setiap detik kita,
Ramadhan dan juga seterusnya. –Sumber: Ust Abdullah Shaleh Hadrami- (disadur dari Buletin An-Nahl, terbitan Rumah Quran Bintaro)

Minggu, 12 Mei 2013

Ramadhan Will Come

-IGCC-
Bismillah....

Ramadhan will come! Tanpa terasa, kurang dari 100 hari lagi, Ramadhan akan datang! :D
Sebagai seorang muslim, seyogianya kita tidak menyia-nyiakan “musim ibadah” dan hendaknya kita termasukorang-orang yang berlomba untuk memanfaatkan musim ibadah tersebut.

“… dan dalam hal itu, maka hendaknya orangberlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifun: 26)

Pada dasarnya,orang-orang yang berkeinginan mulia serta mengikuti jejak semangat kaum salafussaleh akan sangat intensif memanfaatkan musim ibadah tersebut. Dan bagi kita, sesungguhnya di dalam diri Rasulullah saw. terdapat teladan yang bagus. Karena itu, semangatlah menyambut bulan Ramadhan sebagai kesempatan emas untuk melakukanibadah kepada Allah Ta'ala dengan hal-hal berikut Ini:

1. Gembira dan Bahagia dengan Datangnya Ramadhan
Di dalam hadits sahihdisebutkan bahwa Rasulullah saw. Memberikan kabar gembira kepadasahabat-sahabatnya dengan datangnya bulan Ramadhan:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuhdiberkahi Allah di dalamnya. Di mana Allah menurunkan rahmat, menghapuskankesalahan-kesalahan dan memperkenankan doa, serta melihat kamu dalamberlomba-lomba di dalamnya, lalu Dia membanggakan kamu kepada malaikat.Maka perlihatkanlah dirimu kepada Allah dengan kebaikan. Sebab sesungguhnyaorang yang celaka adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah di dalamnya.”

Janji Allah dan seruanRasulullah saw. itu dimaksudkan untuk memasukkan rasa senang dan bahagia dalamjiwa para pendengarnya.

2. Memperbanyak Do’a
Karena bulan Ramadhanitu bulan yang penuh berkah, hendaknya kita memohon kepada-Nya agar dapat sampaipada bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan nikmat kesehatan, kita akanmampu menjalani ibadah, baik itu puasa, tarawih, dzikir, de el el. Sebab, betapabanyak orang yang menunggu Ramadhan, lalu datang ajal sebelum datangnyaRamadhan.

3. Memahami Ilmu dan Hukum Puasa Ramadhan
Hukum-hukum yangberkaitan dengan puasa Ramadhan termasuk ilmu yang tidak boleh tidak harusdipahami oleh setiap muslim.

“Dan sesungguhnya puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiapindividu, dan dengannya dia harusmengetahui tentang hal-hal yang menjadikannysempurnanya puasa dan yang merusak nilai-nilai puasa. (Ibnu Abdilbar)

Karena itu, sambutlahpuasa itu, dengan mempelajari kitab-kitab yang bermanfaat dan memperjelas apayang ingin kita ketahui tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan suciini. Dan hendaknya juga berupaya mengajarkan hukum-hukum tersebut kepadakeluarga dan lingkungan tetangga yang belum mengetahuinya agar memperolehhikmah.

4. Melatih Diri dengan Puasa Sunah
Dengan membiasakan diri melaksanakan puasa Sunah, insya Allah kita tidak akan terkejut lagi untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Puasa sunah menjadi training dasar bagi kita untuk mempersiapkan kondisi lahir maupun bathin menjelang Ramadhan.

5. Menyusun Program Aktivitas Ramadhan
Jika sudah berlalu,Ramadhan tidak akan kembali, kecuali kita masih diberi kesempatan hingga tahundepan. Karena itu, jangan sampai terlewatkan dengan sia-sia. Untuk mengisinya,lakukanlah aktivitas-aktivitas yang akan mampu merealisasikan tujuan puasaRamdhan (menjadi takwa).

Itulah beberapa kiat yang dapat kita terapkan menjelang Ramadhan. Semoga bermanfaat.. ^_^

Alhamdulillah..,
Selamat menyambutRamadhan 1434 H, semangat!!! :D
(adapted from 30 Masalah Puasa untuk Wanita, Abu Anas HusenAl’Ali, Gema Insani Press)

by Yiyi Al-Mu'awannah II

Selasa, 19 Maret 2013

Kala Hati Tak Lagi Bening

Malam itu, sabtu minggu ketiga di awal tahun 2013 ini, kalau aku tak salah ingat, Allah menegurku lewat lelaki-lelaki kecil itu. Lelaki-lelaki kecil santri SDIT Khoiru Ummah di bilangan Rejang Lebong, sebuah kota kecil di Bengkulu  itu kudengar sedang asyik berdialog dengan ustadz mereka. Malam mulai larut, sisa-sisa aroma jamaah isya pun hampir tak berbekas. Khusyuk aku menyimak dialog mereka, dari luar ruangan, tanpa sepengetahuan kedua pihak. Si ustadz ini lebih banyak bicara, sementara murid-muridnya hanya terdiam, sesekali mereka mengiyakan pernyataan si ustadz. Atau terkadang mereka menjawab dan membalas pertanyaan yang terlontar dari sosok tegas yang masih muda itu, masih seumuran denganku.

Angin semilir yang berhembus sesekali mengalihkan perhatianku dari dialog mereka. Hingga entah menit keberapa, aku tak tahu pastinya, isak tangis mulai terdengar dari dalam ruangan. Mula-mula terdengar pelan, seorang dua orang terkaku. Hingga kata-kata dari sang ustadz ini mulai berhasil menyentuh hati mereka, dan riuhlah suasana kala itu. Hampir semua yang ada di dalam ruangan menangis, menyesal atas kesalahan dan khilaf yang telah mereka lakukan. Isak tangis bergema kencang, hatiku mulai bergetar, miris mendengar tangisan mereka.

Santri-santri kelas 4 dan 5 itu mengajariku, tentang lembutnya hati. Dengan mengingat khilaf, mereka menangis sejadi-jadinya, memohon ampun akan salah yang mereka lakukan. Khilaf karena lalai dalam shalat, khilaf karena menyakiti perasaan orang tua, khilaf karena tak patuh terhadap ustadz-ustadz mereka. Ya Allah, betapa lembutnya hati-hati mereka, hingga dengan nasehat singkat dari si ustadz mereka segera ingat, beristighfar dan menangis menyesali perbuatan mereka.

Lantas akupun termenung mengasihani diriku yang sulit sekali menangis bila mendengar nasehat, seruan untuk bertobat. Entah, berapa banyak nasehat yang telah aku dengar akan perkara taubat ini. Namun tak sekalipun rasanya,hati ini menangis dibuatnya. Air matapun terasa kering, seolah kemarau telah menyurutkan sumber-sumbernya.

Padahal aku pernah membaca bahwasanya Ibnul Qayyim rahimahullah pernah bernasehat, “tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Allahu Rabbiy. Jangan Engkau biarkan hati ini mengeras sekeras batu.

---**---


“Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”
(Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah dalam kitab Al Bidayah Wanihayah)

Mungkin saja hati kita ini telah mengeras sekeras batu, hingga curahan air hikmahpun tak mampu dengan mudahnya meluluhkan hati. Maaf, bukan hati kita, bukan hatimu tentunya. Sebenarnya hatiku yang mulai mengeras. Padahal sekeras apapun batu itu, maka ia semestinya dapat luluh akibat pancaran air. Lalu bagaimana dengan hati yang telah membatu bahkan mati? 

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Baqarah:74)

Dulu sekali aku teringat akan pesan-pesan Rasulullah SAW yg sampai  ke telingaku lewat lisan guruku. Matinya hati itu banyak penyebabnya. Banyak tertawa, terlalu banyak makan, banyak omong, salah pergaulan dan yang paling susah diobati adalah terus-menerus bermaksiat. Maksiat ini, mulanya membuat resah pelakunya. Namun karena sering dilakukan, sensor yang ada dalam hatipun tak mampu lagi mengenalinya sebagai kesalahan. Rusaklah sensor itu maka matilah hati si empunya. 

Akupun tersadar bahwa hukuman terberat bagi seorang pendosa adalah manakala ia tak lagi mengenali perbuatan dosanya sebagai kekeliruan. Ia menikmatinya, maksiat terasa indah baginya, dan nur Ilahiahpun makin susah menembus tembok kalbunya. Jauh sebelum aku menyadari hal ini, Syaikh As-Sa’di Rahimahullah pernah menulis dalam kitabnya Al-Karim Ar-Rahman, bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya.

Bersyukurlah bila masih ada rasa takut kepada Allah, manakala hatimu pernah terasa mengeras, laiknya hatiku. Karena bila aliran air-air hikmah tak mampu lagi memecah kerasnya batu, maka batu itupun masih akan terjatuh, “meluncur jatuh karena takut pada Allah.” Bila nasehat tak lagi mampu menembus benteng kokoh yang mengelilingi hati maka segeralah ingat pada Allah. Takutlah pada-Nya. Senandungkan bait-bait cinta-Nya yg tersampaikan melalui kekasih tercinta, Muhammad SAW. Resapi maknanya dan banyak-banyaklah menyebut nama-Nya. Ingat kebesaran-Nya, ingatlah akan nikmat lahiriah yang tak sedikitpun diambil darimu karena ulah maksiatmu atas-Nya. Dan ingat kembali dosa-dosamu itu yang engkau sendiri tak kuasa menghitungnya, padahal ia memiliki catatan lengkap yang tak luput sedikitpun. Semoga dengannya, air-air bening penyesalan mulai mengalir dari mata indahmu dan sumber-sumbernya tak lagi kering kerontang. Maka puaskanlah untuk menangis sejadi-jadinya. (catur)



Rabu, 20 Februari 2013

Pacaran? Kuno BRO!!!

-IGCC-Pacaran , Kuno ?

Sori, dengan judul seperti ini bukan maksud kita mau ngeledekin kamu-kamu yang pacaran, tapi kita mau menertawakan kamu-kamu yang pacaran.
Lho, sama aja atuh ya?

Jangan bingung begitu deh, karena memang itulah faktanya.

Pacaran, adalah aktivitas yang udah kuno. Mungkin bukan saja kuno, tapi sekaligus norak.

Bener lho Kenapa sih?

Islam, sebagai agama ‘modern’ dan mencerahkan pemikiran, selalu memberikan yang terbaik untuk pemeluknya.

Misalnya saja, di jaman purbakala, saat manusia terbiasa buligir, alias kagak make sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya, Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Jilbab salah satunya, adalah ajaran Islam yang memberikan kehormatan kepada kaum wanita dalam berpakaian. Jadi, kalo sekarang masih ada anak puteri yang kagak pake jilbab, itu artinya masih ‘kagum’ dengan kebudayaannya Homo Soloensis dan Pythecantropus Erectus yang masih primitif, alias kuno. Gubrag! (yang tersinggung dilarang bangga) ?

Lha, pacaran apa hubungannya dengan kuno dan modern?

Sabar dulu sobat.

Begini, sebelum Islam datang sebagai agama penyempurna bagi kehidupan manusia, kehidupan di masa jahiliyah dulu rusak banget. Salah satunya dalam pergaulan. Mungkin, kalo kita mau kejam, seperti dunia binatang. Kok bisa sih? Iya, soalnya hubungan antara pria dan wanita di masa jahiliyah dulu kagak ada aturannya. Main seruduk, main selonong sana selonong sini. Suka-suka aja gitu lho. Waduh!

Sobat muda muslim, itulah sebabnya kenapa kita bilang bahwa pacaran adalah aktivitas kuno dan sekaligus norak. Lihat saja model gaul anak muda sekarang (termasuk paling banyak di antaranya adalah remaja muslim) makin tak terkendali alias liar banget.

Kata seorang teman, remaja sekarang dalam bergaul dengan lawan jenisnya menggunakan prinsip 3T; ta’aruf (saling mengenal), taqarrub (saling mendekat), dan tak tubruk (terjemahkan dan tafsirkan sendiri deh, he..he..he..).

mentang-mentang saling cinta dan saling sayang, lalu merasa halal aja main elus, main peluk, main tendang, main cekik, dan main banting (smackdown kali yee…? He..he..he..)

Jadi, pacaran memang aktivitas yang deket-deket banget dengan z-i-n-a. Naudzubillahi min dzalik! Benar banget sobat, kita ngeri deh dengan perkembangan gaul remaja sekarang. Remaja yang awam memang paling banyak melakukan aktivitas baku syahwat yang diharamkan Islam ini, but nggak sedikit yang ngakunya anak masjid juga jadi aktivis pacaran.

Wackss… kacau-beliau dong?

Begitulah…

Hmm…, kamu yang masih pacaran dan lagi seneng-senengnya bermesraan bareng gandengan kamu, pastinya bakalan sutris baca tulisan ini. Mungkin juga tuh sumpah serapah bakalan keluar dalam mulut kamu. Tapi inget sobat, justru lebih parah kalo kagak ada yang mau susah payah ngingetin kita-kita. Sebab, sebagai manusia kita selalu nggak lepas dari kesalahan. Di sinilah perlunya kita saling menasihati dan ngingetin satu sama lain. Tul nggak? Jadi, jangan marah ya kalo kita ngingetin kamu, meski dengan sindiran.

Kenapa sih pada pengen pacaran?

Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya pacaran?

He..he..he.. jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya.

Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:
Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.

Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa. Tapi, ukuran dewasa nggak selalu ditentukan dengan perubahan fisikmu, tapi ditentukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa.

Seperti apa sih berpikir dewasa?
>>Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa. Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap.
Why?
Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melakukannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang berpikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkalkulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh.
Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong?
Tepat. Kejam amat ya? ?

Kedua, having fun.

Walah, ini juga asal-asalan.
Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman remaja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.

Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orangtuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangannya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres.

Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.

Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan?

Ternyata nggak tuh.
Banyak pasangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gimana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.

Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator.

Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala?

Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol dateng ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa berlama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar.

Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah! Benarkah pacaran bisa tambah semangat belajar?

Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, karena otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.

Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?

Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi belajar. Nggak ada.

Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya.

Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? He...he…he..)

Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat (keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan.

Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)

Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”

Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.” Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh. Nah lho?

Menertawakan pacaran
Sobat muda muslim, kalo melihat teman-teman kamu yang pacaran, kita suka geli dan lucu lho. Kita tertawa. Bener.

Abisnya, teman remaja yang aktivis berat pacaran adalah tipe manusia yang suka ngakalin gitu lho. Sebab, alasan-alasan utama mereka berpacaran justru semuanya klise. Intinya, semua itu cuma direkayasa untuk melegalkan aktivitas baku syahwat terlarang itu. Bener. Kagak bohong! [pasang wajah seriuz]

Oke deh, singkat kata, bagi kamu yang masih aktif pacaran, segera melakukan pembenahan; putusin aja pacar kamu. Pelajari Islam. Yakinlah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu. Nggak usah ragu, jodoh di tangan Allah, bukan di tangan hansip (maksudnya kalo kamu kepergok lagi “begituan” sama hansip, he..he..he..).

Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Join IGCC apa lagiii..wehhhh [iklan]

Insya Allah itu bakal meredam keinginan kamu terhadap aktivitas gaul bebas yang emang berbahaya dan dosa itu.
 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS an-Nûr [24]: 30).

Sobat, pacaran adalah salah satu pemenuhan yang salah dari naluri mempertahankan jenis. Sebab, pemenuhan dan penyaluran yang sah menurut Islam adalah dengan menikah. Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu memiliki kemampuan untuk menikah, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung” (HR Bukhari) Jadi, jangan pada nekat pacaran ya? Pacaran itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalo pun mungkin ada ‘manfaat’, tapi itu biasanya cuma diukur dengan penilaian hawa nafsu kita, bukan berdasarkan aturan Allah Swt. Kalo kamu nekat pacaran?

Huahaha… udah kuno, norak, dosa lagi. Amit-amit deh. Tinggalin ya..!? atawa kami ketawain abiz-abiz-an..ohoho3

Wallahu a'lam bisshawaab.


Minggu, 27 Januari 2013

Resume Kajian Tematik Kitab “Idhaul Ma’ani al Khafiyah fi Arbain an Nawawiyah” karangan Syaikh Muhammad Tatay. (Dengan Penyesuaian)

-IGCC- Sabtu, 26 Januari 2013 bersama ustadz Abu Dzar Lc, di Mushalla Wahadah (Belakang Pengadilan Agama Curup).

Hadits Arba’in No. 3
عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْن الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النبي صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البِيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ)

Dari Abu Abdurrahman –Abdullah bin Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima hal; Kesaksian bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah,  menegakkan shalat,  menunaikan zakat,  haji ke baitullah dan  puasa Ramadhan.”

Hadits ini terhimpun dalam kitab shahihain (shahih bukhari dan muslim) dan merupakan Asas-asas pokok keislaman. Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab Radiyallahuanhuma.

Sekilas Tentang Abdullah Bin Umar

Abdullah bin Umar termasuk kalangan shigharush shahabah (sahabat junior) dalam jajaran para sahabat nabi. Dikenal sebagai orang yang sangat ketat keteguhannya terhadap syariat. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menceritakan tentang beliau sebagai berikut:

 “Dia masuk Islam saat masih kecil dan ikut hijrah bersama ayahnya saat belum baligh. Pada perang Uhud dia masih kecil, perang pertama yang diikutinya adalah perang Khandaq. Dia termasuk yang ikut berbai’at di bawah pohon, bersama ibunya, Ummul Mu’minin Hafshah, Zainab binti Mazh’un saudara wanita Utsman bin Mazh’un Al Jumahi.

Beliau banyak meriwayatkan ilmu yang bermanfaat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali,  Bilal, Shuhaib, Amir bin Rabi’ah, Zaid bin Tsabit, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Utsman bin  Thalhah, Hafshah (saudara perempuannya), Asalam, ‘Aisyah, dan yang lainnya.   (Siyar A’lam An Nubala, 3/204. Cet. 9, 1413H -1993M. Muasasah Ar Risalah)

Disebutkan Radhiallahu ‘Anhuma (semoga Allah meridhai keduanya), maksudnya adalah dirinya dan ayahnya (Umar bin Al Khathab). Selain beliau, ada 3 sahabat junior nabi yang bernama Abdullah dan merupakan anak dari sahabat rasulullah. Mereka adalah Abdullah Bin Abbas, Abdullah Bin Zubair dan Abdullah Bin Ja’far radiyallahuu anhum.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:
“Para ulama mengatakan: jika seorang sahabat nabi dan ayahnya adalah muslim, maka katakan Radhiallahu ‘Anhuma, dan jika seorang sahabat nabi sorang muslim sedangkan ayahnya kafir, maka katakan Radhiallahu ‘Anhu.” (Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 84. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Lima Pondasi Keislaman

Islam dibangun di atas lima perkara sebagaimana yang disebutkan di hadits. Para ulama sepakat bahwa kafir hukumnya bagi muslim yang mengingkari salah satu saja dari lima perkara di atas. Namun, terdapat khilaf di tengah ulama terhadap orang-orang yang tidak mengingkari pondasi di atas tetapi enggan atau malas mengerjakannya. Sebagai contoh, seorang muslim yang mengakui kewajiban shalat fardhu tetapi ia terus-menerus meninggalkannya dikarenakan lalai ataupun malas melakukannya maka ulama berbeda sikap terhadap hal ini.

Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang seperti ini maka ia telah kafir atau murtad. Sementara imam Malik, Hanafi dan Syafi’I tidak menghukumi kafir terhadap orang yang meninggalkan shalat tetapi tak mengingkari kewajiban atasnya. Mereka dihukumi sebagai orang-orang yang fasik.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya shalat sebagai tiang agama ini. Mari tengok kembali shalat yang senantiasa kita kerjakan paling tidak lima waktu dalam sehari ini. Setidaknya ada empat hal yang perlu kita perhatikan atasnya, yakni thaharah yang sempurna, niat yang shohih, tumakninah dan sakinah.

Pendidikan Ala Rasulullah SAW

Dalam banyak kesempatan Rasulullah memberikan pengajaran dengan bahasa yang lugas meski terkadang ada beberapa riwayat yang menunjukkan beliau memakai makna-makna kiasan di dalamnya.

Namun perlu kita tengok untuk hal-hal yang bersifat dasar dan penting seperti riwayat hadits di atas beliau menyampaikannya secara lugas sehingga tidak muncul penafsiran yang lain selain yang diinginkan oleh syara’. Inilah semestinya yang perlu kita contoh sebagai da’i atau sebagai pengajar. Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat muridnya paham, bukannya guru yang semakin membuat muridnya bingung dengan bahasa-bahasa kiasan yang seolah bernilai intelektual tinggi. Padahal yang dibutuhkan oleh murid adalah pemahaman akan agama dengan penjelasan yang lugas dan singkat.

Da’i yang baik bukanlah ia yang menjelaskan panjang lebar dengan bahasa-bahasa konotasi yang menurutnya indah tapi justru membuat mad’u (objek dakwah) semakin bingung. Sampaikanlah sesuatu hal itu menurut kadar pemahaman mad’u.

Politik Islam

Politik islam itu jelas. Ia tidak menimbulkan kebingungan di dalamnya. Baca kembali hadits yang tengah kita bahas ini, Ia mengenalkan Islam secara gamblang. Visi dan Misi yang terkandung di dalamnya jelas, tanpa tedeng aling-aling. Politik islam jelas tujuannya yakni mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, tidak menyekutukannya dan berbai’at setia padaNya.

Tampak jelas bahwa rasulullah SAW menyebarkan isu politik islam ini sebelum menuju jenjang politik Negara. Keimanan rakyatlah yang dibentuk terlebih dahulu sebelum hukum-hukum islam itu dikenalkan. Maka tak heran ketika nash pengharaman khamr turun, serta-merta masyarakat mematuhinya. Lihatlah, betapa banyak botol dan gentong khamr berserakan di jalanan madinah kala itu. Padahal sebelumnya, khamr merupakan minuman kesukaan mereka. Ketika hudud, rajam dan qishash disyariatkan tak ada pembangkangan atasnya. 

Coba kita bandingkan dengan Negara kita yang mayoritas muslim ini tetapi mayoritas pula yang berpendapat bahwa hukum-hukum di atas tak lagi tepat diterapkan di masa kini. Tengoklah bagaimana pezina dipuja dan pencuri (koruptor) adhem ayem bergelimpangan harta.

Sebuah pertanyaan yang menjadi bahan renungan bagi kita, bila nanti negeri ini dipimpin oreng-orang sholeh, kala Umara adalah para ulama, akankah syara’ ini mampu dijadikan hujjah kembali? Akankah masyarakat kita menerimanya? Inilah tugas kita para Da’i untuk terus-menerus menyebarkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat luas agar kelak ketika orang-orang sholih itu menjadi pemimpin masyarakat siap mengikutinya.

Fiqih Dakwah

Dalam hadits ini Rasulullah menyebutkan secara urut pondasi keislaman dari yang terpenting; syahadat, shalat, zakat, haji dan puasa ramadhan. Atau diriwayat yang lain puasa ramadhan disebut terlebih dahulu sebelum haji. Urut-urutan ini memberikan sebuah pengajaran bagi kita para da’I bahwa kita mesti tau mana yang urgen untuk kita sampaikan terlebih dahulu kepada mad’u. Hendaknya masalah akidah menjadi prioritas utama untuk masyarakat awam yang masih lekat dengan perkara-perkara khurafat atau takhayul. Tapi bukan berarti kita tidak menyampaikan perkara lain di luar akidah ini. Syaikh Muhammad Tatay dalam buku ini berkata, “ Barang siapa berdakwah maka hendaknya ia paham dan mengetahui akan Fiqih Prioritas”.

Kita tengok kondisi dewasa kini, perpecahan muslim hampir terjadi akibat masyarakat muslim itu sendiri terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok. Gesekan bahkan saling serang timbul karena tak dipahaminya Fiqih Prioritas ini. Hal-hal yang khilafiyah dipermasalahkan sementara hal-hal yang bersifat asasiyah tidak diperhatikan. Sering kita dengar perang mulut terjadi hanya karena perdebatan bacaan qunut dalam shalat subuh, yasinan, isbal dan perkara furu’ yang terjadi khilaf para ulama atasnya. Padahal di sekeliling kita banyak saudara muslim kita yang meninggalkan shalat dan berkhalwat bukan dengan mahram. Bahkan gradasi moral dalam berpakaian, kemerosotan akidah dan kristenisasi telah makin jelas terlihat. Namun apa yang telah mereka perbuat?

“Di era sekarang ini, orang islam itulah yang menghancurkan agama ini. Kaum kafir hanya menyediakan pirantinya.” (Syaikh Muhammad Tatay)

Benar kawan, perang kasat mata yang tengah dilancarkan musuh Islam jauh lebih ampuh mengacaukan barisan kaum muslimin ketimbang perang-perang berdarah yang telah terjadi. Ya, era Ghawzu Fikri!!!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...