Kamis, 19 Juli 2012

Ramadhan: Pendekatan Diri Di Tengah Keterasingan (Alm.Rahmat Abdullah)

-IGCC-

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini –dibulan ini (Ramadlan)– ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan).

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau  jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan  “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an dihati.

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin.

Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.
Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius. ~KH. Rahmat Abdullah~

Selasa, 17 Juli 2012

Bagaimana Kabarmu Saudariku?

-IGCC-
Assalamu'alaikum cantik..

Bagaimana kabar rambutnya?
apakah masih terurai panjang hingga terkibar ditiup sang angin pagi, siang, dan malam? ataukah sudah tertutupi dengan kerudung yg menjulur panjang?

Subhanallah..
cantiknya ukhtyku yg tidak malu berhijab,
tak menampakkan aurat,
bahkan sehelai rambut pun tak terlihat,
menjadi muslimah yg taat pada syari'at.
kalah deeh tuh turis artis barat..


Bagaimana keadaan badanmu, tambah berat atau tambah ringan?
masih pusing mikirin berat badan?
karena takut dibilang cacingan atau kebanyakan makan, ..
atau telah tertutupi dengan jilbab yg menjulur panjang
hingga menutupi seluruh badan.
lebar dan tak transparan agar tak nampak bentuk badan,
tak mencolok dan bukan untuk pameran sekedar dapat pujian dari ikhwan..
kan kan kan..
Dah ga jaman juga tuh parfum yang menyengat hingga sekalian alam..

Subhanallah..
ukhtyku sungguh luar biasa..
kini, lengkap pakaian muslimahnya,
dengan jilbab dan kerudung yg rapi,
dan tak malu lagi dibilang : "mau ke kampus atau ke pengajian sih?".
bilang aja ukh, "yg penting syar'i..".
 atau ajakin aja sekalian ngaji..


Assalamu'alaikum saudariku yg disana..
buruan pake jilbab dan kerudungnya.
ga takut ya kalo nanti ga bisa nyium bau surga?

masalah pribadi yg belum bener, ntar nyusul aja ukh..
sambil benahi diri dikit demi dikit sambil lalu...
kalo nunggu pembenahan diri dulu baru pake hijab, ntar dosanya dobel tuh!

ukhty, semoga kita istiqomah ya,
dengan jilbab dan kerudungnya.
smoga Allah merahmati kita,
salam sayang dari saudara yg begitu menyayangimu karena Allah.


Ghina Zafira 
blog 

Senin, 11 Juni 2012

HIDAYAH, Untuk Dijemput, Bukan Ditunggu!

-IGCC-
 “Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah yang menzhalimi dirinya sendiri.” (Yunus:44)


Dalam lingkaran kecil itu, mereka, para pemuda itu tengah merenung, berdiskusi ihwal hidup mereka di bumi ini. Membincangkan betapa kurang bersyukurnya mereka akan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Betapa tidak? Dengan begitu besar dan banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada mereka, taksatupun dari mereka yang melaksanakan perintah Allah kepada mereka. Shalat berjamaah!! Hanya 5 waktu dalam sehari, Cuma satu jam seharinya, menurut hitungan mereka. Padahal mereka bersepakat bahwa perintah ini adalah mutlak suatu kewajiban yang semestinya tak ditinggalkan walau dalam keadaan sakit sekalipun. Allah… lirih salah seorang mereka sambil menghela napas.

Di tempat lain, seorang ayah tengah menemani buah hatinya, dua tahun usianya. Si gadis kecil merengek minta sang ayah untuk pergi ke masjid.  si kecil ingin pergi ke masjid untuk Shalat!!! Ia terus merengek, merajuk pada ayahnya. Akhirnya sang ayah menuruti keinginan putrinya, tetapi setelah jamaah maghrib “bubar”. Aneh pikirku.

Ah, siapa nama gadis kecil itu? Dengan lugunya ia menghampiriku yang sedang asyik duduk sambil melantunkan  ayat-ayat suci al Quran. Kurengkuh ia yang masih suci itu… Kududukkan di atas pahaku. Dengan tenangnya ia menyimak bacaan Qur’anku. Dalam lantunanku aku tengah berfikir betapa Allah tengah menunjukkan hidayahNya pada ayah gadis kecil itu, tetapi tak segera disambutnya hidayah itu. Ah, betapa meruginya ia. Lirih aku berdoa, untuk sang ayah dan pula untuk si kecil yang cantik itu. Kukecup keningnya… “Allah, ‘alimha fil Qur’an”, ujarku lirih.

“Sesungguhnya, telah Kami tunjukkan kepadanya jalan yang lurus, sebagian ada yang bersyukur dan sebagian yang lain kufur”. (Al-Insaan:3)

Allah tak sedang menzhalimi hamba2 Nya. Hidayah dari Allah bisa datang kepada siapa saja dan kapan saja. Allah telah menunjukkan jalan kepada manusia. Namun, respon dari manusia inilah yang berbeda-beda. Sebagian ada yang bersyukur dengan menapaki jalan yang telah Allah tunjukkan dan yang lainnya kufur serta mengingkarinya.

Karena hal itulah betapa jenuhnya hati ketika mendengar seseorang yang enggan untuk menjalankan perintah Allah dengan dalih, “belum dapat hidayah”. Isy.. hidayah untuk dijemput man, bukan untuk ditunggu! jawabku.

Manusia sebenarnya tahu akan kewajiban mereka ini. Mereka tahu akan pergi ke mana mereka setelah mati dan apa yang akan mereka pertanggungjawabkan nantinya. Namun, tetap saja pengetahuan mereka hanya sebatas tahu tanpa dibarengi dengan kesadaran. Iman belum menembus hati-hati mereka yang telah pekat tertutup tinta-tinta dosa akan perbuatan mereka. Bagaimana mungkin mereka dapat merasakan betapa nikmatnya iman jika Allah dan rasul-Nya masih menjadi urutan yang kedua, ketiga atau bahkan kesekian belas setelah harta-harta mereka, anak-anak mereka, jabatan-jabatan mereka dan seterusnya?



Ya Allah, jangan engkau jadikan kami ke dalam golongan orang yang cinta kepada dunia dan takut mati. Serta senantiasa tunjukilah kepada kami jalan-jalan yang engkau Ridho i. Tanamkanlah rasa kecintaan kami kepada nabimu hingga kami merasa begitu rindunya kami terhadapnya dan kepada-Mu.



Tuhan…
Leraikanlah dunia yang membiak di dalam hatiku.
Karena di situ tidak kumampu menumpuk dua cinta.
Hanya cintamu, Allah, kuharap penuh.
Dibaja i bangkai,dunia yang ku bunuh.

(raihan)

Sabtu, 09 Juni 2012

Jemput Surgamu Saudariku!

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah. Ia rajin menjalankah ibadah Sunnah. Sayang, Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali dinasehati ia hanya tersenyum dan menjawab ”Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab. ” Sudah banyak orang menasehatinya tetapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam, Ia bermimpi sedang berada di sebuah taman yang sangat indah. Rumputnya sangat hijau, berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih airnya  melintas dipinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya.

Ia tak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia pun menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

“Assalamu'alaikum, saudariku....”
“Wa'alaikum salam. Selamat datang saudariku”
“Terima kasih. Apakah ini surga?”
Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan, saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum ke surga ”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini. ”

Wanita itu tersenyum lagi ”Amalan apa yang bisa membuatmu kemari, saudariku ?”
“Aku selalu menjaga waktu shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunnah. ”
“Alhamdulillah..”
Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka. Dan ia melihat beberapa wanita yang berada di Taman mulai memasukinya satu-persatu.

“Ayo kita ikuti mereka” kata wanita itu setengah berlari.
“ Apa di balik pintu itu?” Katanya sambil mengikuti wanita itu
“ Tentu saja surga saudariku” larinya semakin cepat
“ Tunggu..tunggu aku..”
dia berlari namun tetap tertinggal Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum kepadanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari. Ia lalu berteriak

“Amalan apa yang telah kau lakukan hingga engkau begitu ringan ?”
“Sama dengan engkau saudariku.” jawab wanita itu sambil tersenyum
Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu.

“ Amalan apalagi yang kau lakukan yang tidak kulakukan ?”
Wanita itu menatapnya dan tersenyum. Lalu berkata
“Apakah kau tak memperhatikan dirimu, apa yang membedakan dengan diriku ?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab.
“ Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke Surga-NYa tanpa hijab yang menutup auratmu ?”

Tubuh wanita itu telah melewati pintu, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar, memandangnya dan berkata ”Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Cukuplah surga hanya sampai hatimu karena niatmu hanyalah menghijabi hati.”

Ia tertegun..lalu terbangun..beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan shalat malam. Menangis dan menyesali perkataanya dulu.. berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.

===

Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga bermanfaat dan semoga kita dikenali sebagai wanita mu’minah yang memiliki identitas, yang taat pada perintah Allah dan takut  akan hari pembalasan. Semoga tidak melalaikan diri kita. Jaga diri, hiasi pribadi.. ^_^


Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....

Ghina Shafirah

Selasa, 05 Juni 2012

NIKMATNYA SAKIT

-IGCC- Dalam sebuah riwayat Bukhari wa Muslim, Rasulullah SAW bersabda :
”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu”. 
Hadits ini secara gamblang menyebutkan betapa sakit merupakan sarana yang digunakan Allah untuk menghapus kesalahan-kesalahan (baca:dosa kecil) yang dilakukan hamba-Nya. Tentu saja dengan catatan sakit itu dilalui dengan keikhlasan. Mengapa demikian? Karena ternyata ada di antara manusia yang justru semakin ingkar kepada Rabb-nya atas sakit yang diturunkan padanya. 

Ah, andai mereka itu dapat merasakan nikmatnya sakit...
andai kesabaran dan ketabahan jiwa mengalahkan lemahnya raga...

Semestinya, sakit yang tengah dialami seorang mukmin ini, mampu membawa perubahan menuju kebaikan. Sakit seharusnya menjadi sarana pelebur dosa, pengasah hati dan pensucian jiwa dari berbagai penyakit hati yang telah mengendap dalam jiwa. Semakin nyeri luka yang dirasakan, mata hati semakin peka dan jiwa semakin terjaga dari buaian-buaian mimpi yang tengah dihembuskan setan dan kawan-kawan.

Kesombongan berganti dengan kepasrahan,
Pengakuan-pengakuan dosa tak terbendung didengungkan.
Syukur dan Pujian tak terhenti terucap
hingga raga dan jiwa letih terlelap.

Tuhan, aku ridha akan sakit yang Kau ujikan
asalkan rahmat-Mu makin indah kurasakan.
kuharap, dosa-dosaku berguguran
lenyap, serontok jati kala kekeringan.

Terimakasih sakit, untuk kesabaran yang kau ajarkan,
luluhlah kesombongan terseraklah keangkuhan.
kau jadikan aku menuju Rabb-ku, tertatih pelan.
Hingga kuharap Ia merapat hangat.



So, selamat bersabar dalam kelemahan. nikmatilah sakit dan ia kan membawamu Bangkit!!!


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...