Selasa, 19 Maret 2013

Kala Hati Tak Lagi Bening

Malam itu, sabtu minggu ketiga di awal tahun 2013 ini, kalau aku tak salah ingat, Allah menegurku lewat lelaki-lelaki kecil itu. Lelaki-lelaki kecil santri SDIT Khoiru Ummah di bilangan Rejang Lebong, sebuah kota kecil di Bengkulu  itu kudengar sedang asyik berdialog dengan ustadz mereka. Malam mulai larut, sisa-sisa aroma jamaah isya pun hampir tak berbekas. Khusyuk aku menyimak dialog mereka, dari luar ruangan, tanpa sepengetahuan kedua pihak. Si ustadz ini lebih banyak bicara, sementara murid-muridnya hanya terdiam, sesekali mereka mengiyakan pernyataan si ustadz. Atau terkadang mereka menjawab dan membalas pertanyaan yang terlontar dari sosok tegas yang masih muda itu, masih seumuran denganku.


Angin semilir yang berhembus sesekali mengalihkan perhatianku dari dialog mereka. Hingga entah menit keberapa, aku tak tahu pastinya, isak tangis mulai terdengar dari dalam ruangan. Mula-mula terdengar pelan, seorang dua orang terkaku. Hingga kata-kata dari sang ustadz ini mulai berhasil menyentuh hati mereka, dan riuhlah suasana kala itu. Hampir semua yang ada di dalam ruangan menangis, menyesal atas kesalahan dan khilaf yang telah mereka lakukan. Isak tangis bergema kencang, hatiku mulai bergetar, miris mendengar tangisan mereka.

Santri-santri kelas 4 dan 5 itu mengajariku, tentang lembutnya hati. Dengan mengingat khilaf, mereka menangis sejadi-jadinya, memohon ampun akan salah yang mereka lakukan. Khilaf karena lalai dalam shalat, khilaf karena menyakiti perasaan orang tua, khilaf karena tak patuh terhadap ustadz-ustadz mereka. Ya Allah, betapa lembutnya hati-hati mereka, hingga dengan nasehat singkat dari si ustadz mereka segera ingat, beristighfar dan menangis menyesali perbuatan mereka.

Lantas akupun termenung mengasihani diriku yang sulit sekali menangis bila mendengar nasehat, seruan untuk bertobat. Entah, berapa banyak nasehat yang telah aku dengar akan perkara taubat ini. Namun tak sekalipun rasanya,hati ini menangis dibuatnya. Air matapun terasa kering, seolah kemarau telah menyurutkan sumber-sumbernya.

Padahal aku pernah membaca bahwasanya Ibnul Qayyim rahimahullah pernah bernasehat, “tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Allahu Rabbiy. Jangan Engkau biarkan hati ini mengeras sekeras batu.

---**---


“Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”
(Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah dalam kitab Al Bidayah Wanihayah)

Mungkin saja hati kita ini telah mengeras sekeras batu, hingga curahan air hikmahpun tak mampu dengan mudahnya meluluhkan hati. Maaf, bukan hati kita, bukan hatimu tentunya. Sebenarnya hatiku yang mulai mengeras. Padahal sekeras apapun batu itu, maka ia semestinya dapat luluh akibat pancaran air. Lalu bagaimana dengan hati yang telah membatu bahkan mati? 

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Baqarah:74)

Dulu sekali aku teringat akan pesan-pesan Rasulullah SAW yg sampai  ke telingaku lewat lisan guruku. Matinya hati itu banyak penyebabnya. Banyak tertawa, terlalu banyak makan, banyak omong, salah pergaulan dan yang paling susah diobati adalah terus-menerus bermaksiat. Maksiat ini, mulanya membuat resah pelakunya. Namun karena sering dilakukan, sensor yang ada dalam hatipun tak mampu lagi mengenalinya sebagai kesalahan. Rusaklah sensor itu maka matilah hati si empunya. 

Akupun tersadar bahwa hukuman terberat bagi seorang pendosa adalah manakala ia tak lagi mengenali perbuatan dosanya sebagai kekeliruan. Ia menikmatinya, maksiat terasa indah baginya, dan nur Ilahiahpun makin susah menembus tembok kalbunya. Jauh sebelum aku menyadari hal ini, Syaikh As-Sa’di Rahimahullah pernah menulis dalam kitabnya Al-Karim Ar-Rahman, bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya.

Bersyukurlah bila masih ada rasa takut kepada Allah, manakala hatimu pernah terasa mengeras, laiknya hatiku. Karena bila aliran air-air hikmah tak mampu lagi memecah kerasnya batu, maka batu itupun masih akan terjatuh, “meluncur jatuh karena takut pada Allah.” Bila nasehat tak lagi mampu menembus benteng kokoh yang mengelilingi hati maka segeralah ingat pada Allah. Takutlah pada-Nya. Senandungkan bait-bait cinta-Nya yg tersampaikan melalui kekasih tercinta, Muhammad SAW. Resapi maknanya dan banyak-banyaklah menyebut nama-Nya. Ingat kebesaran-Nya, ingatlah akan nikmat lahiriah yang tak sedikitpun diambil darimu karena ulah maksiatmu atas-Nya. Dan ingat kembali dosa-dosamu itu yang engkau sendiri tak kuasa menghitungnya, padahal ia memiliki catatan lengkap yang tak luput sedikitpun. Semoga dengannya, air-air bening penyesalan mulai mengalir dari mata indahmu dan sumber-sumbernya tak lagi kering kerontang. Maka puaskanlah untuk menangis sejadi-jadinya. (catur)



0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan komentar anda di sini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...