Malam itu, sabtu minggu ketiga di
awal tahun 2013 ini, kalau aku tak salah ingat, Allah menegurku lewat
lelaki-lelaki kecil itu. Lelaki-lelaki kecil santri SDIT Khoiru Ummah di
bilangan Rejang Lebong, sebuah kota kecil di Bengkulu itu kudengar sedang asyik berdialog dengan
ustadz mereka. Malam mulai larut, sisa-sisa aroma jamaah isya pun hampir tak
berbekas. Khusyuk aku menyimak dialog mereka, dari luar ruangan, tanpa
sepengetahuan kedua pihak. Si ustadz ini lebih banyak bicara, sementara
murid-muridnya hanya terdiam, sesekali mereka mengiyakan pernyataan si ustadz.
Atau terkadang mereka menjawab dan membalas pertanyaan yang terlontar dari
sosok tegas yang masih muda itu, masih seumuran denganku.
Angin semilir yang berhembus
sesekali mengalihkan perhatianku dari dialog mereka. Hingga entah menit
keberapa, aku tak tahu pastinya, isak tangis mulai terdengar dari dalam
ruangan. Mula-mula terdengar pelan, seorang dua orang terkaku. Hingga kata-kata
dari sang ustadz ini mulai berhasil menyentuh hati mereka, dan riuhlah suasana
kala itu. Hampir semua yang ada di dalam ruangan menangis, menyesal atas
kesalahan dan khilaf yang telah mereka lakukan. Isak tangis bergema kencang,
hatiku mulai bergetar, miris mendengar tangisan mereka.
Santri-santri kelas 4 dan 5 itu
mengajariku, tentang lembutnya hati. Dengan mengingat khilaf, mereka menangis
sejadi-jadinya, memohon ampun akan salah yang mereka lakukan. Khilaf karena
lalai dalam shalat, khilaf karena menyakiti perasaan orang tua, khilaf karena
tak patuh terhadap ustadz-ustadz mereka. Ya Allah, betapa lembutnya hati-hati
mereka, hingga dengan nasehat singkat dari si ustadz mereka segera ingat,
beristighfar dan menangis menyesali perbuatan mereka.
Lantas akupun termenung
mengasihani diriku yang sulit sekali menangis bila mendengar nasehat, seruan
untuk bertobat. Entah, berapa banyak nasehat yang telah aku dengar akan perkara
taubat ini. Namun tak sekalipun rasanya,hati ini menangis dibuatnya. Air
matapun terasa kering, seolah kemarau telah menyurutkan sumber-sumbernya.
Padahal aku pernah membaca
bahwasanya Ibnul Qayyim rahimahullah pernah bernasehat, “tatkala mata telah
mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah
ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber
dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”
Allahu Rabbiy. Jangan Engkau
biarkan hati ini mengeras sekeras batu.
---**---
“Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan
binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”
(Abu Sulaiman
ad-Darani rahimahullah dalam kitab Al Bidayah Wanihayah)
Mungkin saja hati kita ini telah
mengeras sekeras batu, hingga curahan air hikmahpun tak mampu dengan mudahnya
meluluhkan hati. Maaf, bukan hati kita, bukan hatimu tentunya. Sebenarnya
hatiku yang mulai mengeras. Padahal sekeras apapun batu itu, maka ia semestinya
dapat luluh akibat pancaran air. Lalu bagaimana dengan hati yang telah membatu
bahkan mati?
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih
keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir
sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu
keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur
jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa
yang kamu kerjakan.”
(Al-Baqarah:74)
Dulu sekali aku teringat akan
pesan-pesan Rasulullah SAW yg sampai ke
telingaku lewat lisan guruku. Matinya hati itu banyak penyebabnya. Banyak
tertawa, terlalu banyak makan, banyak omong, salah pergaulan dan yang paling
susah diobati adalah terus-menerus bermaksiat. Maksiat ini, mulanya membuat
resah pelakunya. Namun karena sering dilakukan, sensor yang ada dalam hatipun
tak mampu lagi mengenalinya sebagai kesalahan. Rusaklah sensor itu maka matilah
hati si empunya.
Akupun tersadar bahwa hukuman
terberat bagi seorang pendosa adalah manakala ia tak lagi mengenali perbuatan
dosanya sebagai kekeliruan. Ia menikmatinya, maksiat terasa indah baginya, dan
nur Ilahiahpun makin susah menembus tembok kalbunya. Jauh sebelum aku menyadari
hal ini, Syaikh As-Sa’di Rahimahullah pernah menulis dalam kitabnya Al-Karim
Ar-Rahman, bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa
manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat
baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu
melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya
menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya.
Bersyukurlah bila masih ada rasa takut
kepada Allah, manakala hatimu pernah terasa mengeras, laiknya hatiku. Karena
bila aliran air-air hikmah tak mampu lagi memecah kerasnya batu, maka batu
itupun masih akan terjatuh, “meluncur jatuh karena takut pada Allah.” Bila
nasehat tak lagi mampu menembus benteng kokoh yang mengelilingi hati maka
segeralah ingat pada Allah. Takutlah pada-Nya. Senandungkan bait-bait cinta-Nya
yg tersampaikan melalui kekasih tercinta, Muhammad SAW. Resapi maknanya dan
banyak-banyaklah menyebut nama-Nya. Ingat kebesaran-Nya, ingatlah akan nikmat
lahiriah yang tak sedikitpun diambil darimu karena ulah maksiatmu atas-Nya. Dan
ingat kembali dosa-dosamu itu yang engkau sendiri tak kuasa menghitungnya,
padahal ia memiliki catatan lengkap yang tak luput sedikitpun. Semoga dengannya,
air-air bening penyesalan mulai mengalir dari mata indahmu dan sumber-sumbernya
tak lagi kering kerontang. Maka puaskanlah untuk menangis sejadi-jadinya. (catur)
21.25
Iqra Generation Cabang Curup

Posted in:
Islamic Greeting Card by Alhabib



0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda di sini