Kamis, 21 Maret 2013

Kajian Keputrian Forris : Ups, I'm in love [ada bonus surat buat 'nembak' gebetan loh..]

-IGCC- Selasa, 12 Maret 2013 lalu, bidang keputrian ForRis mengadakan kajian keputrian yang membahas tuntas mengenai pacaran dalam Islam. Tercatat, 46 siswi dari 5 Sekolah menghadiri kegiatan yg diadakan di musholah MAN 1 Curup itu. Siswi-siswi dari MAN 1 Curup, SMAN 1 Curup Kota, SMKS 3 Idhata, SMAN 1 Curup Timur dan SMKN 1 Selupu Rejang ini sudah berada di tempat sejak jam 9 pagi, padahal kegiatan baru akan dimulai jam 9.30 loh, sobat IG-ers..

'killing the time'..seru-seruan duyu bareng ayuk Cory..

say..
marina menari..
di atas menara..
di atas menara..marina menari..



hati2 salah gerakan yaakkkk..  ^__^

ehh..kembali fokus ke bahasan..
 
"Pacaran itu boleh g sihh?" tanya Uni Rizka di awal bahasan.
ada yg jawab 'boleh..' ada yg jawab 'g bolehhh...' ada yg bingung mo jawab apa coz masih lugu..
*ehh

"pacaran itu boleh, dek.." kata Uniz Rizka slanjutnya.
SWING!!

si pelaku pacaran lega..
yg anti-pacaran bingung..

"boleh klo udah nikah.." lanjut uni Rizka..

[hanyoooww...gantian siapa yg bingung.. :D ]

nyimak materi dr Uni Rizka

*bahasan lengkap ttg pacaran..baca di sini yaa..

kajian ini tidak monoton bahas materi panjang lebar loh, Sobat IG-ers, lebih banyak sharing dan diskusi kasus. Belum lagi habis materi disampaikan, beberapa peserta terlihat sesegukan menahan tangis..
*mmm..knp ya tuu

Lantas..klo terlanjur 'main hati'..gimana dunx??

ini dia hasil kajian teman2 keputrian yg patut dicoba..
  1. perbanyak doa, minta penjagaan ekstra untuk hati
  2. hindari ikhtilat 
  3. yakin janji Allah itu pasti
  4. titipkan pada IA Sang Pemilik
paling awal dari itu semua..beranikan diri utk 'nembak' sang pujaan hati.

contoh suratnya boleh Co-Pas surat ini ni..
>>


Surat PHP (Putus Hubungan Pacaran)

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ba’da tahmid dan shalawat…
Syukur pada Allah yang masih mengaruniakan nafas padaku dan padamu untuk segera memperbarui taubat.

Akhi, rasanya aku telah menemukan Kekasih yang jauh lebih baik darimu. Yang Tak Pernah Mengantuk dan Tak Pernah Tidur. Yang siap terus menerus Memperhatikan dan Mengurusku. Yang selalu bersedia berduaan di sepertiga terakhir malam. Yang siap Memberi apapun yang kupinta. Ia yang Bertahta, Berkuasa, dan Memiliki Segalanya.

Maaf Akhi, tapi menurutku kau bukan apa-apa dibanding Dia. Kau sangat lemah, kecil dan kerdil di hadapanNya. Dan, akhi, aku khawatir apa yang telah kita lakukan selama ini membuatNya murka. Padahal Ia, Maha Kuat, Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha Keras SiksaNya.


Akhi, belum terlambat untuk bertaubat. Apa yang telah kita lakukan selama ini pasti akan ditanyakan olehNya. Ia bisa marah, akhi. Marah tentang saling pandang yang kita lakukan, marah karena setitik sentuhan kulit kita yang belum halal itu, marah karena suatu ketika dengan terpaksa aku harus membonceng motormu, marah karena pernah ketetapanNya kuadukan padamu atau tentang lamunanku yang selalu membayang-kan wajahmu. Ia bisa marah. Tapi sekali lagi semua belum terlambat. Kalau kita memutuskan hubungan ini sekarang, semoga Ia mau Memaafkan dan Mengampuni. Akhi, Ia Maha Pengampun, Maha Pemberi Maaf, Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang, Maha Bijaksana.

Akhi, jangan marah ya. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan cintaku padaNya, tidak pada selainNya. Tapi tak cuma aku, akhi. Kau pun bisa menjadi kekasihNya, kekasih yang amat dicintai dan dimuliakan. Caranya satu, kita harus jauhi semua larangan-laranganNya termasuk dalam soal hubungan kita ini. Insya Allah, Dia punya rencana indah untuk masa depan kita masing-masing.

Kalau engkau selalu berusaha menjaga diri dari hal-hal yang dibenciNya, kau pasti akan dipertemukan dengan seorang wanita shalihah. Ya, wanita shalihah yang pasti jauh lebih baik dari diriku saat ini. Ia yang akan membantu-mu menjaga agamamu, agar hidupmu senantiasa dalam kerangka mencari ridha Allah dalam ikatan pernikahan yang suci. Inilah doaku untukmu, semoga kaupun mendoakanku, akhi.

Akhi, aku akan segera menghapus namamu dari memori masa lalu yang salah arah ini. Tapi, aku akan tetap menghormatimu sebagai saudara di jalan Allah. Ya, saudara di jalan Allah, akhi. Itulah ikatan terbaik. Tak hanya antara kita berdua. Tak mustahil itulah yang akan mempertemukan kita dengan Rasulullah di telaganya, lalu beliaupun memberi minum kita dengan air yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk dari krim beku.

Maaf akhi. Tak baik rasanya aku berlama-lama menulis surat ini. Aku takut ini merusak hati. Goresan pena terakhirku di surat ini adalah doa keselamatan dunia akhirat sekaligus tanda akhir dari hubungan haram kita, Insya Allah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
[Demikianlah isi surat yang dihadiahkan oleh Salim A. Fillah dalam buku ”Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”.]

noohh..dijamin yg kena 'tembak' langsung ketar ketirr.. ['syetannya' yg ditembak yaakkkk.. :D ]

***




seru kaann...
yang g datang rugi kan kan kan..
tunggu info kegiatan keputrian Forris berikutnya di group Forris yaaa.. ^__^





Selasa, 19 Maret 2013

Kala Hati Tak Lagi Bening

Malam itu, sabtu minggu ketiga di awal tahun 2013 ini, kalau aku tak salah ingat, Allah menegurku lewat lelaki-lelaki kecil itu. Lelaki-lelaki kecil santri SDIT Khoiru Ummah di bilangan Rejang Lebong, sebuah kota kecil di Bengkulu  itu kudengar sedang asyik berdialog dengan ustadz mereka. Malam mulai larut, sisa-sisa aroma jamaah isya pun hampir tak berbekas. Khusyuk aku menyimak dialog mereka, dari luar ruangan, tanpa sepengetahuan kedua pihak. Si ustadz ini lebih banyak bicara, sementara murid-muridnya hanya terdiam, sesekali mereka mengiyakan pernyataan si ustadz. Atau terkadang mereka menjawab dan membalas pertanyaan yang terlontar dari sosok tegas yang masih muda itu, masih seumuran denganku.

Angin semilir yang berhembus sesekali mengalihkan perhatianku dari dialog mereka. Hingga entah menit keberapa, aku tak tahu pastinya, isak tangis mulai terdengar dari dalam ruangan. Mula-mula terdengar pelan, seorang dua orang terkaku. Hingga kata-kata dari sang ustadz ini mulai berhasil menyentuh hati mereka, dan riuhlah suasana kala itu. Hampir semua yang ada di dalam ruangan menangis, menyesal atas kesalahan dan khilaf yang telah mereka lakukan. Isak tangis bergema kencang, hatiku mulai bergetar, miris mendengar tangisan mereka.

Santri-santri kelas 4 dan 5 itu mengajariku, tentang lembutnya hati. Dengan mengingat khilaf, mereka menangis sejadi-jadinya, memohon ampun akan salah yang mereka lakukan. Khilaf karena lalai dalam shalat, khilaf karena menyakiti perasaan orang tua, khilaf karena tak patuh terhadap ustadz-ustadz mereka. Ya Allah, betapa lembutnya hati-hati mereka, hingga dengan nasehat singkat dari si ustadz mereka segera ingat, beristighfar dan menangis menyesali perbuatan mereka.

Lantas akupun termenung mengasihani diriku yang sulit sekali menangis bila mendengar nasehat, seruan untuk bertobat. Entah, berapa banyak nasehat yang telah aku dengar akan perkara taubat ini. Namun tak sekalipun rasanya,hati ini menangis dibuatnya. Air matapun terasa kering, seolah kemarau telah menyurutkan sumber-sumbernya.

Padahal aku pernah membaca bahwasanya Ibnul Qayyim rahimahullah pernah bernasehat, “tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”

Allahu Rabbiy. Jangan Engkau biarkan hati ini mengeras sekeras batu.

---**---


“Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”
(Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah dalam kitab Al Bidayah Wanihayah)

Mungkin saja hati kita ini telah mengeras sekeras batu, hingga curahan air hikmahpun tak mampu dengan mudahnya meluluhkan hati. Maaf, bukan hati kita, bukan hatimu tentunya. Sebenarnya hatiku yang mulai mengeras. Padahal sekeras apapun batu itu, maka ia semestinya dapat luluh akibat pancaran air. Lalu bagaimana dengan hati yang telah membatu bahkan mati? 

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
(Al-Baqarah:74)

Dulu sekali aku teringat akan pesan-pesan Rasulullah SAW yg sampai  ke telingaku lewat lisan guruku. Matinya hati itu banyak penyebabnya. Banyak tertawa, terlalu banyak makan, banyak omong, salah pergaulan dan yang paling susah diobati adalah terus-menerus bermaksiat. Maksiat ini, mulanya membuat resah pelakunya. Namun karena sering dilakukan, sensor yang ada dalam hatipun tak mampu lagi mengenalinya sebagai kesalahan. Rusaklah sensor itu maka matilah hati si empunya. 

Akupun tersadar bahwa hukuman terberat bagi seorang pendosa adalah manakala ia tak lagi mengenali perbuatan dosanya sebagai kekeliruan. Ia menikmatinya, maksiat terasa indah baginya, dan nur Ilahiahpun makin susah menembus tembok kalbunya. Jauh sebelum aku menyadari hal ini, Syaikh As-Sa’di Rahimahullah pernah menulis dalam kitabnya Al-Karim Ar-Rahman, bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya.

Bersyukurlah bila masih ada rasa takut kepada Allah, manakala hatimu pernah terasa mengeras, laiknya hatiku. Karena bila aliran air-air hikmah tak mampu lagi memecah kerasnya batu, maka batu itupun masih akan terjatuh, “meluncur jatuh karena takut pada Allah.” Bila nasehat tak lagi mampu menembus benteng kokoh yang mengelilingi hati maka segeralah ingat pada Allah. Takutlah pada-Nya. Senandungkan bait-bait cinta-Nya yg tersampaikan melalui kekasih tercinta, Muhammad SAW. Resapi maknanya dan banyak-banyaklah menyebut nama-Nya. Ingat kebesaran-Nya, ingatlah akan nikmat lahiriah yang tak sedikitpun diambil darimu karena ulah maksiatmu atas-Nya. Dan ingat kembali dosa-dosamu itu yang engkau sendiri tak kuasa menghitungnya, padahal ia memiliki catatan lengkap yang tak luput sedikitpun. Semoga dengannya, air-air bening penyesalan mulai mengalir dari mata indahmu dan sumber-sumbernya tak lagi kering kerontang. Maka puaskanlah untuk menangis sejadi-jadinya. (catur)



Rabu, 20 Februari 2013

Pacaran? Kuno BRO!!!

-IGCC-Pacaran , Kuno ?

Sori, dengan judul seperti ini bukan maksud kita mau ngeledekin kamu-kamu yang pacaran, tapi kita mau menertawakan kamu-kamu yang pacaran.
Lho, sama aja atuh ya?

Jangan bingung begitu deh, karena memang itulah faktanya.

Pacaran, adalah aktivitas yang udah kuno. Mungkin bukan saja kuno, tapi sekaligus norak.

Bener lho Kenapa sih?

Islam, sebagai agama ‘modern’ dan mencerahkan pemikiran, selalu memberikan yang terbaik untuk pemeluknya.

Misalnya saja, di jaman purbakala, saat manusia terbiasa buligir, alias kagak make sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya, Islam datang menyempurnakan aturan manusia dalam berpakaian. Jilbab salah satunya, adalah ajaran Islam yang memberikan kehormatan kepada kaum wanita dalam berpakaian. Jadi, kalo sekarang masih ada anak puteri yang kagak pake jilbab, itu artinya masih ‘kagum’ dengan kebudayaannya Homo Soloensis dan Pythecantropus Erectus yang masih primitif, alias kuno. Gubrag! (yang tersinggung dilarang bangga) ?

Lha, pacaran apa hubungannya dengan kuno dan modern?

Sabar dulu sobat.

Begini, sebelum Islam datang sebagai agama penyempurna bagi kehidupan manusia, kehidupan di masa jahiliyah dulu rusak banget. Salah satunya dalam pergaulan. Mungkin, kalo kita mau kejam, seperti dunia binatang. Kok bisa sih? Iya, soalnya hubungan antara pria dan wanita di masa jahiliyah dulu kagak ada aturannya. Main seruduk, main selonong sana selonong sini. Suka-suka aja gitu lho. Waduh!

Sobat muda muslim, itulah sebabnya kenapa kita bilang bahwa pacaran adalah aktivitas kuno dan sekaligus norak. Lihat saja model gaul anak muda sekarang (termasuk paling banyak di antaranya adalah remaja muslim) makin tak terkendali alias liar banget.

Kata seorang teman, remaja sekarang dalam bergaul dengan lawan jenisnya menggunakan prinsip 3T; ta’aruf (saling mengenal), taqarrub (saling mendekat), dan tak tubruk (terjemahkan dan tafsirkan sendiri deh, he..he..he..).

mentang-mentang saling cinta dan saling sayang, lalu merasa halal aja main elus, main peluk, main tendang, main cekik, dan main banting (smackdown kali yee…? He..he..he..)

Jadi, pacaran memang aktivitas yang deket-deket banget dengan z-i-n-a. Naudzubillahi min dzalik! Benar banget sobat, kita ngeri deh dengan perkembangan gaul remaja sekarang. Remaja yang awam memang paling banyak melakukan aktivitas baku syahwat yang diharamkan Islam ini, but nggak sedikit yang ngakunya anak masjid juga jadi aktivis pacaran.

Wackss… kacau-beliau dong?

Begitulah…

Hmm…, kamu yang masih pacaran dan lagi seneng-senengnya bermesraan bareng gandengan kamu, pastinya bakalan sutris baca tulisan ini. Mungkin juga tuh sumpah serapah bakalan keluar dalam mulut kamu. Tapi inget sobat, justru lebih parah kalo kagak ada yang mau susah payah ngingetin kita-kita. Sebab, sebagai manusia kita selalu nggak lepas dari kesalahan. Di sinilah perlunya kita saling menasihati dan ngingetin satu sama lain. Tul nggak? Jadi, jangan marah ya kalo kita ngingetin kamu, meski dengan sindiran.

Kenapa sih pada pengen pacaran?

Bener. Kenapa sih kamu-kamu pada pengen ngelakuin pacaran? Apa enaknya pacaran?

He..he..he.. jangan bingung dulu Mas, kita coba bantu ngasih bocorannya.

Ada beberapa alasan yang bisa kita telusuri di balik maraknya aktivitas ilegal dalam ajaran Islam ini:
Pertama, biar disebut dewasa. Banyak teman remaja yang melakukan pacaran, biar disebut udah dewasa. Maklum aja, aktivitas baku syahwat itu kayaknya ganjil banget kalo dilakukan oleh bocah cilik. Selain ganjil, anak kecil nggak pantes ngelakuin pacaran.

Sobat muda, secara biologis boleh jadi kamu dewasa. Kamu yang cowok udah mimpi basah, tubuhmu udah mulai memproduksi sel sperma, suaramu pun udah berubah jadi berat, udah tumbuh rambut di sana-sini, jakunmu pun mulai kelihatan. Kamu yang puteri, sudah mulai haidh, tubuhmu udah memproduki sel telur, beberapa bagian tubuh mengalami pertumbuhan pesat. Itu secara fisik. Dan itu nggak salah kamu disebut dewasa. Tapi, ukuran dewasa nggak selalu ditentukan dengan perubahan fisikmu, tapi ditentukan pula dengan cara kamu berpikir dan cara kamu bersikap. Nah, dewasa dalam berpikir dan bersikap harus kamu miliki juga dong. Sebab, banyak orang mengaku udah dewasa, tapi ternyata nggak bisa atau belum bisa berpikir dewasa.

Seperti apa sih berpikir dewasa?
>>Kamu berani bertanggung jawab dan bisa menentukan masa depan kamu sendiri. Dengan cara yang benar tentunya. Itu baru dewasa. Itu sebabnya, kalo kamu menganggap bahwa untuk bisa dikatakan udah dewasa adalah dengan melakukan pacaran, berarti kamu sebetulnya belum bisa dikatakan dewasa, terutama dalam berpikir dan bersikap.
Why?
Sebab, aktivitas pacaran jelas mendekati zina. Dan itu dosa. Jika kamu masih tetap melakukannya, itu artinya kamu belum tahu arti sebuah kedewasaan. Padahal, orang yang berpikir dan bersikap dewasa, akan lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan ini. Nggak asal jalan aja. Tapi penuh perhitungan, bila perlu mengkalkulasi untung-rugi dari sebuah perbuatan yang kamu lakukan. Sebab, itulah yang namanya bertanggungjawab. Lha, yang pacaran? Rata-rata cuma seneng-seneng aja tuh.
Berarti nggak punya prinsip dong? Berarti belum dewasa dong?
Tepat. Kejam amat ya? ?

Kedua, having fun.

Walah, ini juga asal-asalan.
Tapi inilah kenyataan yang kudu kita hadapi. Banyak teman remaja yang mengaku bahwa alasan melakukan pacaran sekadar having fun aja. Sekadar bersenang-senang. Nggak punya alasan lain. Barangkali teman remaja yang begitu menganggap bahwa pacaran sekadar hiburan di masa sulit dan obat stres saat menghadapi persoalan hidup.

Bisa jadi, teman-teman remaja yang nggak mendapatkan kasih sayang di rumah, karena kebetulan orangtuanya jarang di rumah, ia nyari kesenangan di luar. Bisa dengan kekasihnya (baca: pacaran), bisa juga lari ke minuman keras dan narkoba. Di rumah sumpek, maka pelampiasan untuk mencari kesenangannya lewat pacaran. Pacaran sering diyakini sebagai obat mujarab untuk menghilangkan stres.

Gimana nggak senang, wong, jalan berdua, mojok berdua, bisa curhat, bisa menikmati hidup ini dengan nyaman dan tenang.

Benarkah pacaran selalu memberikan kesenangan?

Ternyata nggak tuh.
Banyak pasangan yang pacaran justru cek-cok melulu. Belum lagi kalo beda ambisi. Maklum masih pada muda, emosinya masih meletup-letup. Jadi, gimana mau senang-senang jika tiap hari ‘panas’ melulu. Nggak banyak sih yang begitu, tapi tetap, bahwa alasan berpacaran semata untuk having fun, juga nggak dibenarkan. Baik secara hitung-hitungan logika, apalagi hukum syara.

Ketiga, pacar sebagai motivator dan katalisator.

Duh, emangnya pacaran sejenis suplemen, pake menambah semangat segala?

Tapi itulah yang terjadi. Alasan yang asal-asalan memang. Namun inilah yang juga banyak diakui teman remaja. Ada yang ngedadak jadi getol dateng ke sekolah en rajin belajar. Rela datang lebih awal ke sekolah. Tujuannya, biar bisa berlama-lama dengan sang gacoan. Maklum, kalo di sekolah sang gebetan ada, rasanya muncul semangat untuk belajar.

Ah, yang benar nih? Jangan ngigau begitu, ah! Benarkah pacaran bisa tambah semangat belajar?

Naga-naganya sih alasan itu cuma direkayasa. Coba aja kamu pikirin, gimana bisa belajar jadi getol kalo di sekolah aja yang diingetin cuma kekasihnya. Boleh jadi pelajaran yang diikuti di kelas memantul sempurna, karena otaknya udah full dengan memori tentang sang kekasih hati. Lagi pula, yang berhasil jadi juara kelas or juara umum di sekolah bukan karena mereka pacaran. Kalo memang pacaran nambah semangat untuk belajar, harusnya semua yang pacaran tambah pinter, karena belajar terus. Buktinya? Justru yang pacaran selalu bermasalah dalam belajarnya.

Memang sih ada satu-dua yang pacaran tapi prestasinya tetep bagus. Tapi itu bukan jadi alasan lho untuk kamu teladani. Sebab, puluhan, atau mungkin ratusan remaja yang pacaran, justru prestasi akademiknya jeblok. Yang pinter itu pun, karena emang otaknya tokcer banget. Selain memang mereka nggak nafsu-nafsu amat untuk pacaran. Karena doi biasanya lebih mementingkan belajar. Nah lho?

Jadi, emang nggak ada pengaruh secara signifikan sih antara pacaran dan prestasi belajar. Nggak ada.

Itu mah, cuma alasan klise alias dibuat-buat aja untuk melegalkan ajang baku syahwat yang dilarang itu. Tapi sejujurnya, pendapat kita neh, yang udah-udah, makin kuat pacarannya, biasanya malah makin malas belajarnya.

Ngaku aja deh. (Idih kayak interogasi aja ya? He...he…he..)

Tapi terlepas dari itu semua, entah pacaran itu bisa menumbuhkan semangat belajar atau malah memadamkan semangat belajar, tetep aja perbuatan tersebut haram untuk dilakukan. Karena ukuran manfaat dan mafsadat (keburukan) bukan dinilai oleh kita. Kita, kaum muslim, diajarkan untuk melakukan perbuatan yang ihsan.

Jadi, bukan yang terbanyak amalnya yang akan dinilai oleh Allah, tetapi yang terbaik amalnya. Baik niat maupun caranya. Dua-duanya kudu sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah Swt.: “...supaya Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (TQS al-Mulk [67] : 2)

Seorang ulama yang hidup di masa Abdul Malik bin Marwan, Sa’id bin Jubair, pernah mengatakan: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali disertai amal, tidak akan diterima perkataan dan amal kecuali disertai niat, dan tidak akan diterima perkataan, amal dan niat kecuali disesuaikan dengan sunnah Nabi saw.”

Saking pentingnya ihsan dalam beramal ini, Imam Malik mengatakan: “Sunnah Rasulullah saw itu ibarat perahu nabi Nuh. Siapa yang menumpanginya ia akan selamat; sedangkan yang tidak, akan tenggelam.” Nah, meskipun niatnya bagus untuk menambah semangat belajar (mungkin ikhlas karena Allah), tapi pacaran adalah perbuatan maksiat. Jadi nggak klop tuh. Nah lho?

Menertawakan pacaran
Sobat muda muslim, kalo melihat teman-teman kamu yang pacaran, kita suka geli dan lucu lho. Kita tertawa. Bener.

Abisnya, teman remaja yang aktivis berat pacaran adalah tipe manusia yang suka ngakalin gitu lho. Sebab, alasan-alasan utama mereka berpacaran justru semuanya klise. Intinya, semua itu cuma direkayasa untuk melegalkan aktivitas baku syahwat terlarang itu. Bener. Kagak bohong! [pasang wajah seriuz]

Oke deh, singkat kata, bagi kamu yang masih aktif pacaran, segera melakukan pembenahan; putusin aja pacar kamu. Pelajari Islam. Yakinlah, Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kamu. Nggak usah ragu, jodoh di tangan Allah, bukan di tangan hansip (maksudnya kalo kamu kepergok lagi “begituan” sama hansip, he..he..he..).

Bagi kamu yang belum terjun ke dalam aktivitas ini, hindari segala peluang yang bakal menyeret kamu ke dalam pergaulan bebas ini. Pelajari Islam, sering hadir di majlis taklim, pengajian sekolah dan bertemanlah dengan anak-anak sholeh di sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu. Join IGCC apa lagiii..wehhhh [iklan]

Insya Allah itu bakal meredam keinginan kamu terhadap aktivitas gaul bebas yang emang berbahaya dan dosa itu.
 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS an-Nûr [24]: 30).

Sobat, pacaran adalah salah satu pemenuhan yang salah dari naluri mempertahankan jenis. Sebab, pemenuhan dan penyaluran yang sah menurut Islam adalah dengan menikah. Sabda Rasulullah saw.: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu memiliki kemampuan untuk menikah, maka nikahlah, sebab nikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan; tetapi barangsiapa belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab puasa itu baginya merupakan pelindung” (HR Bukhari) Jadi, jangan pada nekat pacaran ya? Pacaran itu nggak ada manfaatnya sama sekali. Kalo pun mungkin ada ‘manfaat’, tapi itu biasanya cuma diukur dengan penilaian hawa nafsu kita, bukan berdasarkan aturan Allah Swt. Kalo kamu nekat pacaran?

Huahaha… udah kuno, norak, dosa lagi. Amit-amit deh. Tinggalin ya..!? atawa kami ketawain abiz-abiz-an..ohoho3

Wallahu a'lam bisshawaab.


Minggu, 27 Januari 2013

Resume Kajian Tematik Kitab “Idhaul Ma’ani al Khafiyah fi Arbain an Nawawiyah” karangan Syaikh Muhammad Tatay. (Dengan Penyesuaian)

-IGCC- Sabtu, 26 Januari 2013 bersama ustadz Abu Dzar Lc, di Mushalla Wahadah (Belakang Pengadilan Agama Curup).

Hadits Arba’in No. 3
عَÙ†ْ Ø£َبِÙŠْ عَبْدِ الرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ عَبْدِ اللهِ بْÙ†ِ عُÙ…َرَ بْÙ† الخَØ·َّابِ رَضِÙŠَ اللهُ عَÙ†ْÙ‡ُÙ…َا Ù‚َالَ: سَÙ…ِعْتُ النبي صلى الله عليه وسلم ÙŠَÙ‚ُÙˆْÙ„ُ: (بُÙ†ِÙŠَ الإِسْلامُ عَÙ„َÙ‰ Ø®َÙ…ْسٍ: Ø´َÙ‡َادَØ©ِ Ø£َÙ†ْ لاَ Ø¥ِÙ„َÙ‡َ Ø¥ِلاَّ الله ÙˆَØ£َÙ†َّ Ù…ُØ­َÙ…َّدَاً رَسُÙˆْÙ„ُ اللهِ، ÙˆَØ¥ِÙ‚َامِ الصَّلاةِ، ÙˆَØ¥ِÙŠْتَاءِ الزَّÙƒَاةِ، ÙˆَØ­َجِّ البِÙŠْتِ، ÙˆَصَÙˆْÙ…ِ رَÙ…َضَانَ)

Dari Abu Abdurrahman –Abdullah bin Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata: “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima hal; Kesaksian bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah,  menegakkan shalat,  menunaikan zakat,  haji ke baitullah dan  puasa Ramadhan.”

Hadits ini terhimpun dalam kitab shahihain (shahih bukhari dan muslim) dan merupakan Asas-asas pokok keislaman. Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab Radiyallahuanhuma.

Sekilas Tentang Abdullah Bin Umar

Abdullah bin Umar termasuk kalangan shigharush shahabah (sahabat junior) dalam jajaran para sahabat nabi. Dikenal sebagai orang yang sangat ketat keteguhannya terhadap syariat. Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menceritakan tentang beliau sebagai berikut:

 “Dia masuk Islam saat masih kecil dan ikut hijrah bersama ayahnya saat belum baligh. Pada perang Uhud dia masih kecil, perang pertama yang diikutinya adalah perang Khandaq. Dia termasuk yang ikut berbai’at di bawah pohon, bersama ibunya, Ummul Mu’minin Hafshah, Zainab binti Mazh’un saudara wanita Utsman bin Mazh’un Al Jumahi.

Beliau banyak meriwayatkan ilmu yang bermanfaat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali,  Bilal, Shuhaib, Amir bin Rabi’ah, Zaid bin Tsabit, Sa’ad, Ibnu Mas’ud, Utsman bin  Thalhah, Hafshah (saudara perempuannya), Asalam, ‘Aisyah, dan yang lainnya.   (Siyar A’lam An Nubala, 3/204. Cet. 9, 1413H -1993M. Muasasah Ar Risalah)

Disebutkan Radhiallahu ‘Anhuma (semoga Allah meridhai keduanya), maksudnya adalah dirinya dan ayahnya (Umar bin Al Khathab). Selain beliau, ada 3 sahabat junior nabi yang bernama Abdullah dan merupakan anak dari sahabat rasulullah. Mereka adalah Abdullah Bin Abbas, Abdullah Bin Zubair dan Abdullah Bin Ja’far radiyallahuu anhum.

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:
“Para ulama mengatakan: jika seorang sahabat nabi dan ayahnya adalah muslim, maka katakan Radhiallahu ‘Anhuma, dan jika seorang sahabat nabi sorang muslim sedangkan ayahnya kafir, maka katakan Radhiallahu ‘Anhu.” (Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal. 84. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Lima Pondasi Keislaman

Islam dibangun di atas lima perkara sebagaimana yang disebutkan di hadits. Para ulama sepakat bahwa kafir hukumnya bagi muslim yang mengingkari salah satu saja dari lima perkara di atas. Namun, terdapat khilaf di tengah ulama terhadap orang-orang yang tidak mengingkari pondasi di atas tetapi enggan atau malas mengerjakannya. Sebagai contoh, seorang muslim yang mengakui kewajiban shalat fardhu tetapi ia terus-menerus meninggalkannya dikarenakan lalai ataupun malas melakukannya maka ulama berbeda sikap terhadap hal ini.

Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang seperti ini maka ia telah kafir atau murtad. Sementara imam Malik, Hanafi dan Syafi’I tidak menghukumi kafir terhadap orang yang meninggalkan shalat tetapi tak mengingkari kewajiban atasnya. Mereka dihukumi sebagai orang-orang yang fasik.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya shalat sebagai tiang agama ini. Mari tengok kembali shalat yang senantiasa kita kerjakan paling tidak lima waktu dalam sehari ini. Setidaknya ada empat hal yang perlu kita perhatikan atasnya, yakni thaharah yang sempurna, niat yang shohih, tumakninah dan sakinah.

Pendidikan Ala Rasulullah SAW

Dalam banyak kesempatan Rasulullah memberikan pengajaran dengan bahasa yang lugas meski terkadang ada beberapa riwayat yang menunjukkan beliau memakai makna-makna kiasan di dalamnya.

Namun perlu kita tengok untuk hal-hal yang bersifat dasar dan penting seperti riwayat hadits di atas beliau menyampaikannya secara lugas sehingga tidak muncul penafsiran yang lain selain yang diinginkan oleh syara’. Inilah semestinya yang perlu kita contoh sebagai da’i atau sebagai pengajar. Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat muridnya paham, bukannya guru yang semakin membuat muridnya bingung dengan bahasa-bahasa kiasan yang seolah bernilai intelektual tinggi. Padahal yang dibutuhkan oleh murid adalah pemahaman akan agama dengan penjelasan yang lugas dan singkat.

Da’i yang baik bukanlah ia yang menjelaskan panjang lebar dengan bahasa-bahasa konotasi yang menurutnya indah tapi justru membuat mad’u (objek dakwah) semakin bingung. Sampaikanlah sesuatu hal itu menurut kadar pemahaman mad’u.

Politik Islam

Politik islam itu jelas. Ia tidak menimbulkan kebingungan di dalamnya. Baca kembali hadits yang tengah kita bahas ini, Ia mengenalkan Islam secara gamblang. Visi dan Misi yang terkandung di dalamnya jelas, tanpa tedeng aling-aling. Politik islam jelas tujuannya yakni mengajak manusia untuk beriman kepada Allah, tidak menyekutukannya dan berbai’at setia padaNya.

Tampak jelas bahwa rasulullah SAW menyebarkan isu politik islam ini sebelum menuju jenjang politik Negara. Keimanan rakyatlah yang dibentuk terlebih dahulu sebelum hukum-hukum islam itu dikenalkan. Maka tak heran ketika nash pengharaman khamr turun, serta-merta masyarakat mematuhinya. Lihatlah, betapa banyak botol dan gentong khamr berserakan di jalanan madinah kala itu. Padahal sebelumnya, khamr merupakan minuman kesukaan mereka. Ketika hudud, rajam dan qishash disyariatkan tak ada pembangkangan atasnya. 

Coba kita bandingkan dengan Negara kita yang mayoritas muslim ini tetapi mayoritas pula yang berpendapat bahwa hukum-hukum di atas tak lagi tepat diterapkan di masa kini. Tengoklah bagaimana pezina dipuja dan pencuri (koruptor) adhem ayem bergelimpangan harta.

Sebuah pertanyaan yang menjadi bahan renungan bagi kita, bila nanti negeri ini dipimpin oreng-orang sholeh, kala Umara adalah para ulama, akankah syara’ ini mampu dijadikan hujjah kembali? Akankah masyarakat kita menerimanya? Inilah tugas kita para Da’i untuk terus-menerus menyebarkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat luas agar kelak ketika orang-orang sholih itu menjadi pemimpin masyarakat siap mengikutinya.

Fiqih Dakwah

Dalam hadits ini Rasulullah menyebutkan secara urut pondasi keislaman dari yang terpenting; syahadat, shalat, zakat, haji dan puasa ramadhan. Atau diriwayat yang lain puasa ramadhan disebut terlebih dahulu sebelum haji. Urut-urutan ini memberikan sebuah pengajaran bagi kita para da’I bahwa kita mesti tau mana yang urgen untuk kita sampaikan terlebih dahulu kepada mad’u. Hendaknya masalah akidah menjadi prioritas utama untuk masyarakat awam yang masih lekat dengan perkara-perkara khurafat atau takhayul. Tapi bukan berarti kita tidak menyampaikan perkara lain di luar akidah ini. Syaikh Muhammad Tatay dalam buku ini berkata, “ Barang siapa berdakwah maka hendaknya ia paham dan mengetahui akan Fiqih Prioritas”.

Kita tengok kondisi dewasa kini, perpecahan muslim hampir terjadi akibat masyarakat muslim itu sendiri terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok. Gesekan bahkan saling serang timbul karena tak dipahaminya Fiqih Prioritas ini. Hal-hal yang khilafiyah dipermasalahkan sementara hal-hal yang bersifat asasiyah tidak diperhatikan. Sering kita dengar perang mulut terjadi hanya karena perdebatan bacaan qunut dalam shalat subuh, yasinan, isbal dan perkara furu’ yang terjadi khilaf para ulama atasnya. Padahal di sekeliling kita banyak saudara muslim kita yang meninggalkan shalat dan berkhalwat bukan dengan mahram. Bahkan gradasi moral dalam berpakaian, kemerosotan akidah dan kristenisasi telah makin jelas terlihat. Namun apa yang telah mereka perbuat?

“Di era sekarang ini, orang islam itulah yang menghancurkan agama ini. Kaum kafir hanya menyediakan pirantinya.” (Syaikh Muhammad Tatay)

Benar kawan, perang kasat mata yang tengah dilancarkan musuh Islam jauh lebih ampuh mengacaukan barisan kaum muslimin ketimbang perang-perang berdarah yang telah terjadi. Ya, era Ghawzu Fikri!!!

Sabtu, 26 Januari 2013

Rapat Kerja FORRIS RL 2013


-IGCC- Setelah resmi terbentuk Desember 2012 silam, Forum Silaturahim Risma Rejang Lebong (FORRIS RL) melakukan rapat koordinasi guna menentukan agenda-agenda dakwah yang akan dihelat selama 2013 ini. FORRIS sendiri lahir akibat keprihatinan tidak adanya komunikasi dan silaturahim dari Risma-Risma yang ada di Rejang Lebong. Bahkan ternyata, ada beberapa SMA yang belum mempunyai Risma. Ide pembentukan forum ini muncul dari kakak-kakak alumni Risma SMA yang tergabung dalam organisasi Iqro Generation. "Inilah bukti cinta dan kepedulian kami terhadap para pelajar di Rejang Lebong ini", ungkap Regan Suhardi yang merupakan alumni Risma SMAN 1 Curup Kota.


Rapat yang dilaksanakan di basement Masjid Baitul Makmur 24 Januari 2013 ini bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hadir dalam acara ini ust. Solehan Ma'ruf selaku penceramah. Pertemuan FORRIS kali ini menghasilkan program-program nyata guna mengajak kawan-kawan pelajar se-Rejang Lebong untuk semakin dekat dengan Masjid dan paham akan ilmu-ilmu keislaman, melalui Risma-Risma yang ada di sekolah masing-masing. Salah satu contoh program yang akan segera dihelat  adalah OUT BOND Islami. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pertengahan Februari nanti. So Guys pada siap-siap yach...

fokus menyimak materi
peserta muslimah, selalu lebih meriah



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...