Kamis, 22 Maret 2012

Kadar Keutamaan Amal

Dalam Kitab Nashaihul ‘Ibad karangan Syeikh Muhammad An-Nawawi bin Umar al Jawi yang merupakan Syarh dari kitab Munabbihat ‘alal isti’dad liyaumil ma’aad yang ditulis oleh Al-allamah al hafidz Ibnu hajar Al-Asqalani, Ali bin abu Thalib r.a. berkata:”Amal perbuatan yang sungguh paling berat ada empat : Memberi ampun di saat marah, suka berderma di saat melarat , berbuat iffah (enggan) ketika sendirian dan berkata benar terhadap oarang yang di takuti atau di harapkan jasanya”

Jika kita membaca sekilas keempat amalan tersebut, seolah-olah nampak bahwa keempat amalan ini biasa-biasa saja. Amalan ini seolah nampak kecil jika dibandingkan dengan kebiasaan kita dalam menghidupkan malam, menyeru kepada Allah apalagi jika dibandingkan dengan jihad fii sabilillah. Namun, perlu kita garis bawahi perkataan dari Ali r.a ini.. Beliau menyebutkan amalan ini dengan perkataan “sungguh amat berat”, yang menandakan betapa beratnya amalan ini, berat untuk dilakukan, berat pula timbangan kebajikannya. Apabila keempat amalan ini terhimpun dalam diri seorang muslim, tentulah islam, iman dan ikhsan dalam dirinya telah mencapai derajat yang tinggi. 


Memberi Ampun di Saat Marah
Pemaaf merupakan salah satu sifat yang ada pada diri rasulullah. Betapa banyak riwayat yang menyebutkan betapa pemaafnya Beliau. Bahkan tidak sedikit pula jumlah sahabat yang memeluk Islam karena terkesima dengan akhlak beliau yang begitu pemaaf ini.
Menjadi seorang yang pemaaf bukanlah perkara gampang, apalagi jika dihadapkan pada kondisi amarah yang tengah membuncah. Karena itulah Allah memberi predikat “al-muttaqiin” kepada orang-orang yang mampu menahan marah dan memberi maaf kepada manusia, sebagaimana Firman-Nya:
“…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” [Ali ‘Imrân/3 : 134].

Suka Berderma di Saat Melarat
“Yaitu orang yang mendermakan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran/3:134)
Tak dipungkiri lagi, betapa beratnya mendermakan harta padahal kita sendiri tengah membutuhkannya. Memang begitulah semestinya akhlak seorang muslim. Sedekah di waktu sempit lebih dicintainya karena ia menyadari betapa beratnya timbangan kebaikan atas amal yang dikerjakan dengan susah payah. Suatu ketika rasulullah SAW, mendapati sahabat-sahabatnya yang tengan berlomba untuk bersedekah, maka beliaupun bersabda:
“satu dirham menandingi seratus dirham”, demikianlah sabda nabi ketika ada seorang yang hanya punya dua dirham, kemudian ia bersedekah dengannya. Sementara itu ada seorang kaya raya yang mengeluarkan sedekahnya seratus ribu dirham.
Boleh jadi uang seribu rupiah yang disedehkankan oleh orang yang sedang terlilit kemiskinan, jauh lebih bernilai di hadapan Allah daripada ratusan ribu yang dikeluarkan oleh kaya raya andai keduanya dilakukan semata-mata karena Allah.

Berbuat Iffah (Enggan) ketika tengah Sendirian
Pada fase inilah keimanan seseorang diuji. Pada kondisi inilah seseorang bisa menilai dirinya sendiri apakah “ihsan” telah tertancap kuat dalam akhlaknya atau sebatas puja-puji manusia yang diharapkannya. Karenanyalah ada sebuah doa populer yang isinya memohon kepada Allah agar memberikan kemampuan kepada kita untuk menjadikan kondisi sendirinya kita sebagus ketika kita tengah berkumpul dengan sesama. Iffah ini, dapat menjadi tolak ukur kedekatan seorang hamba dengan Rabbnya.

Berkata Benar Terhadap Orang Yang Ditakuti Atau Diharapkan Jasanya
Yang dimaksud tentu saja ketika menemui hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan islam tengah berlangsung, maka dengan tegas kita katakana bahwa hal itu adalah salah. ya, yang Haq kita katakan haq dan yang bathil kita katakan bathil. Ketika memiliki “power” atau kekuasaan, boleh jadi dengan gagah berani kita mengungkapkan sebuah kebenaran dan menyalahkan terhadap perkara yang bathil . Namun, akankah kita melakukan hal yang sama ketika kita dihadapkan pada kondisi sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ali r.a. diatas? Memang ada sebuah hadits yang membolehkan kita hanya sekedar melawan kemungkaran dari dalam hati kita. 

“barang siapa melihat kemungkaran hendaklah dia mengubah dengan tangannya,jika tidak mampu, maka dengan tangannya; dan jika masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman”.

Hadis shahih yang diriwayatkan oleh abu said al khudri ini memang menjadi alternatif bagi kita untuk sebatas mengingkari dalam hati kita bilamana tengah melihat kemungkaran yang diperbuat oleh penguasa ataupun orang yang tengah kita harapkan bantuan dan kebaikan darinya. Namun kita perlu mengingat, bukankah itu merupakan selemah-lemahnya iman? Dan tahukah bahwa diamnya kita tak akan mengubah sedikitpun episode sejarah dari kemungkaran tersebut? Dan parahnya, boleh jadi, diamnya kita akan menjadi pembenaran bagi orang awam yang sama sekali tak mengerti akan perkara agama.
Jika kita amati dengan seksama, keempat amalan di atas sangat erat kaitannya dengan kondisi yang tengah berlangsung, sehingga tanpa mengesampingkan niatan untuk beramal bolehlah jikalau kita tarik sebuah kesimpulan,
“semakin berat atau payah seseorang untuk melakukan amal kebaikan, maka di situ terkandung ganjaran yang berlipat pula, sesungguhnya kadar keutamaan itu terletak pada tingkat kesulitannya.”
Wallahu a’lam (catur)

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan komentar anda di sini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...