-IGCC- Hari itu, hari Jum’at. Seharusnya menjadi hari yang baik
bagi muslimin. Tepatnya tanggal 7 Shafar 656 H. Kota Baghdad, pusat
peradaban dunia terbesar masa itu. Ibukota Khilafah Abbasiyyah yang
telah 5 abad memakmurkan bumi ini dengan peradaban dan ilmu.
Hari Jum’at itu justru puncak kehancuran wilayah khilafah dan akhir
dari keseluruhan kebesaran. Untuk selamanya. Hulaghu Khan pemimpin
pasukan Mongolia hari itu datang masuk ke dalam istana Khilafah terakhir
Abbasiyyah, Musta’shim billah. Dia datang beserta istrinya dan para
pengawalnya. Seluruh elemen kekhilafahan telah lumpuh. Khalifah sudah
menyerah. Hulaghu meminta Musta’shim menunjukkan semua simpanan kekayaan
di istananya. Dengan sangat hina, Musta’shim menunjukkan semua
kekayaannya dalam istana. Kemudian Hulaghu membagikan perhiasan dan
kekayaan itu kepada istrinya dan para pengawal dekatnya.
Sudah satu minggu, Kota Baghdad dihancurkan dari berbagai sudutnya.
Musibah kemanusiaan yang tidak mengenal satu kecap pun kata kasihan.
Begitulah kekejaman pasukan Mongolia. Tembok kota dihancurkan. Setiap yang datang dibunuh. Setiap yang
menyerah pun dibunuh. Pembunuhan besar-besar itu disaksikan oleh Sungai
Dijlah. 3 hari Sungai Dijlah berwarna merah darah. Juga jalanan Kota
Baghdad. Banjir darah.
Anak-anak dan wanita memohon belas kasihan di bawah kuda-kuda pasukan
Mongolia untuk dimaafkan dan agar tidak dibunuh, dengan al-Qur’an di
tangan-tangan mereka. Tetapi kuda-kuda Mongol menginjak-injak semuanya.
Diinjak-injak tanpa secuil pun rasa kasihan. Sebelum akhirnya
pedang-pedang pun, mereka ayunkan kepada setiap anak dan wanita.
Mereka yang sakit terbaring di rumah sakit tidak luput merasakan
kekejaman yang belum pernah disaksikan oleh kekejaman bangsa manapun.
Tidak ada satupun yang selamat. Semuanya harus mengakhiri ajalnya di
ujung pedang Mongolia. Satu minggu itu, setidaknya 400.000 nyawa melayang. Termasuk khalifah Musta’shim dan seluruh anak serta kerabatnya.
Bukan hanya pembantaian muslimin. Peradaban yang dibangun
berabad-abad, ilmu yang menerangi dunia juga ikut dihancurkan. Lagi-lagi
Sungai Dijlah menjadi saksi bisu. Pasukan Mongolia menyeberang sungai
Dijlah dengan menggunakan tumpukan buku. Kuda-kuda Mongol
menginjak-injak buku-buku ilmu.
Masjid-masjid diruntuhkan. Rendah sekali syahwat Mongolia, yaitu
mengambili pernik-pernik masjid yang terbuat dari emas di
kubah-kubahnya. Istana-istana juga dihancurkan untuk dirampas semua
kekayaan berupa harta benda dan perhiasan.
Kota dibakar. Gedung, masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit. Kehancuran total.
Hulaghu Khan akhirnya menghentikan pembunuhan. Penghentian itu
dikarenakan bau anyir darah dan bekas puing-puing penghancuran dan
pembakaran menyebabkan polusi dan penyebaran wabah penyakit. Hulaghu
mengkhawatirkan kesehatan pasukannya, sehingga dia memerintahkan
penguburan mayat manusia dan binatang.
Dan Baghdad pun hancur lebur. Pusat kebesaran Islam itu. Ibukota
Khilafah Abbasiyyah itu. Khilafah Abbasiyyah diakhiri dengan cara yang
sangat mengiris-iris hati. Baghdad dihabisi dengan cara yang sangat
mudah. Kebesaran itu runtuh dengan begitu sederhana. Tidak ada kota
sebegitu mudah diruntuhkan, semudah Baghdad.
La haula wa quwwata illa billah…
Innalillah wa inna ilahi raji’un…
Seharusnya Baghad tidak runtuh. Semestinya Khilafah Abbasiyyah tidak
hilang. Kalau tidak muncul pengkhianat besar di tubuh kekhilafahan.
Kalau saja tidak ada pengkhianat umat.
Muayyaduddin Ibnul ‘Alqami. Nama pengkhianat yang hingga akhir zaman
akan selalu disebut dalam sejarah Islam sebagai pengkhianat peradaban,
pengkhianat umat. Ibnul ‘Alqami bukan sembarang orang. Dia adalah
perdana menteri di kekhilafahan Abbasiyyah.
Sebelum pengkhianatan Ibnul ‘Alqami, sesungguhnya para amir wilayah
sekitar Baghdad telah lebih dahulu menjadi pengkhianat umat. Mereka
bersatu dan bersedia bahkan ada yang berangkat sendiri untuk membantu
pasukan Mongolia menghancurkan muslimin sendiri.
Tetapi puncak semua pengkhianatan itu adalah tokoh terdekat dengan
pusat. Di Kota Baghdad yang dikenal kuat. Ibnul ‘Alqami diam-diam
membangun hubungan haram dengan Hulaghu. Pengkhianat umat itu menjual
Baghdad dengan tukaran di antaranya adalah jabatan jika Hulaghu berhasil
menguasai Baghdad. Rencana demi rencana jahat dilakukannya. Sementara
khalifah asyik menikmati goyangan artis dan berpesta pora.
Begitulah. Dan sejarah pun mengulang dirinya. Andalus mempunyai kisah
yang mirip. Karena memang sejarah selalu sama di zaman manapun.
Kota terakhir yang masih kuat berdiri saat seluruh kota-kota wilayah
Andalus telah menyerah di tangan negara-negara Kristen adalah Granada.
Kota itu masih sangat kuat bertahan, gagah dan terus membangun.
Tetapi akhirnya Granada pun menyerah. Khilafah Islamiyyah di Eropa
selatan tutup hingga hari ini (semoga Allah memberi kita kesempatan
untuk melihat kembalinya Eropa ke tangan muslimin – amin).
Dan sejarah terulang lagi. Granada runtuh karena pengkhianat
peradaban ada dalam tubuh muslimin. Mereka bukan sembarang orang. Mereka
adalah pemimpin muslimin, tetapi merangkap pengkhianat umat.
Tiga nama yang diabadikan sejarah hingga hari akhir nanti sebagai
pengkhianat umat. Catatan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Dua orang
menteri: Yusuf bin Kamasyah dan Abul Qasim al-Malih, serta satu tokoh
agama: al-Baqini.
Umat dijual. Negeri muslim digadaikan. Diserahkan kepada negara Kristen. Ditukar dengan sampah dunia.
Raja Fernando 3 dan Ratu Isabella memasang salib besar dari perak di
pasang di atas Istana al-Hamra’ dan diumumkan bahwa hari itu adalah
akhir dari kekuasaan muslim di Andalus.
Tahun 1499 M, masjid-masjid resmi ditutup.
Sesungguhnya ini bukan akhir dari perjalanan muslimin di Andalus.
Perjuangan sekelompok mujahidin muslimin terus digelorakan, mencoba
mengambil alih Granada. Perjuangan itu ada pasang surutnya.
Perjuangan itu bukan tidak ada hasilnya. Beberapa wilayah di sekitar Andalus sempat berhasil dikuasai muslimin.
Ibnu Abbu adalah pemimpin terakhir kelompok mujahidin yang terus
dikejar-kejar oleh pasukan Kristen. Tetapi mereka tidak pernah berhasil
menyentuh Ibnu Abbu.
Lagi, sejarah terulang. Pengkhianat internal penyebabnya. Ibnu Abbu
syahid bukan di tangan pasukan Kristen. Tetapi dibunuh oleh seorang
muslim yang bernama Syurais, yang anak dan istrinya ditawan oleh pasukan
Kristen. Syurais dijanjikan bahwa anak istrinya akan dibebaskan jika ia
berhasil membunuh Ibnu Abbu. Dan pengkhianat itupun melakukannya.
Ibnu Abbu telah syahid. Dan akhirnya semuanya terhenti. Semua
perjuangan muslimin berakhir. Muslimin harus mati atau menjadi budak.
Akhir seluruh perjalanan muslimin di Andalus.
Maha benar Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah membela
orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap
Khawwan lagi Kafur.” (Qs. Al-Hajj: 38)
Khawwan adalah pengkhianat besar. Kafur adalah orang dengan kekafiran besar atau pengingkar nikmat.
Setidaknya ada 2 pelajaran besar dari ayat agung tersebut:
1. Hanya Allah yang menjaga jamaah orang-orang beriman. Bukti
penjagaan Allah, dengan tidak menyelinapnya khawwan dan kafur. Jika
telah hadir dua kelompok tersebut, berarti jamaah mukminin tersebut
sudah ditinggal Allah. Sekaligus bukti bahwa Allah sudah tidak ridha,
sehingga tidak lagi ada penjagaan-Nya.
2. Khawwan lebih dahulu disebut sebelum kafur. Dan selalu begitu.
Para pengkhianat selalu menjadi mukaddimah untuk kehancuran jamaah
orang-orang beriman yang berakhir di tangan orang-orang kafir.
Ibnul ‘Alqami, Yusuf bin Kamasyah, Abul Qasim al-Malih, al-Baqini, Syurais. Nama-nama para pengkhianat peradaban.
Nama-nama yang berbeda akan terus bermunculan sepanjang zaman. Hingga hari ini. Di tubuh muslimin. Para tokohnya…
Sebagai pengkhianat peradaban! Sebagai pengkhianat umat!
فاعتبروا يا أولى الأبصار
Muhammad Nuh
17.48
Unknown

Posted in:
Islamic Greeting Card by Alhabib



0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda di sini