-IGCC-
Oleh: Reza Ageung S*KARTINI dan emansipasi, dua kata yang sulit dipisahkan. Di balik riwayat Kartini dengan surat-suratnya yang terkenal dan riwayat gagasan emansipasi yang terinspirasi feminisme dari zaman Pencerahaan, segolongan aktivis feminisme mencoba membajak sejarah untuk kepentingan-kepentingan tertentu, atau menjunjung nilai-nilai tertentu.
Dengan
semangat “kesetaraan”, pendekatan legal formal dilakukan, guna mengubah apa
yang mereka sebut sebagai “kontruksi sosial” yang merugikan kaum perempuan,
atau sistem nilai yang cenderung patriarkis dan berorientasi pembedaaan gender.
Namun
Kartini tidak dapat dipanggil kembali untuk sebuah konfirmasi. Isi benaknya
tetap tersimpan dalam deretan tulisan sejarah yang ditorehkan orang lain dan
tumpukan surat-suratnya kepada Ny. Abendanon, Nn. Stella Zeehandelaar, Ny Marie
Ovink Soer, Ir. H. H. Van Kol, Ny. Nellie dan Dr Adriani, sederat lingkaran
elit kolonial.
Pertanyaan
sederhana sebetulnya adalah : benarkah Kartini memperjuangkan emansipasi, atau
hak-hak perempuan atau apapun namanya? Jikapun benar, apakah apa yang
diperjuangkan Kartini sama dengan apa yang diperjuangkan kaum feminis hari ini
hingga mereka merasa memiliki lisensi untuk mencatut nama Kartini?
Sudah
menjadi maklumat kita bersama bahwa kaum feminis hari ini memperjuangkan sebuah
sistem nilai yang berkiblat pada Barat.
Perempuan
di mata mereka adalah makhluk yang tiada beda dengan laki-laki, kecuali berbeda
dalam struktur biologis belaka. Di luar itu, perempuan adalah laki-laki dengan
segala haknya hingga dibolehkan, bahkan diharuskan untuk memiliki kedudukan dan
kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam segala bidang. Arus inilah yang
jelas terasa dalam Rancangan Undang-undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU
KKG) yang saat ini sedang menanti pembahasan di gedung dewan dan sudah menuai
banyak kritikan dari kalangan intelektual muslim. Mengenai mudharat dari RUU
ini sudah banyak dibahas dalam banyak tulisan.
Jika
memang arus feminisme hari ini adalah tidak lain arus westernisasi yang
notabene anti-Islam (bahkan anti-agama), maka Kartini pun akan tervonis sebagai
penjaja ide-ide Barat dengan alasan mengkonter nilai adat yang menindas hak-hak
kaum wanita. Benarkah begitu?
Kartini
dan Islam
Bertolak
belakang dari klaim pegiat feminisme, menarik sekali apa yang dipaparkan oleh
pakar sejarah Ahmad Mansur Suryanegara tentang sosok Kartini. Dalam bukunya
yang fenomenal, Api Sejarah, Ahmad Mansur menulis :
“Dari
surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata R.A
Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi
dan westernisasi. Dari surat-surat R.A. Kartini terbaca tentang nilai Islam di
mata rakyat terjajah waktu itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa
Indonesia. Sebaliknya, Kristen dinilai merendahkan derajat bangsa karena para
gerejawannya memihak kepada politik imperialisme dan kapitalisme.”
Kepada
E.C. Abandenon, Kartini menulis surat yang berisi penolakannya terhadap misi
kristenisasi: “Zending Protestan jangan bekerjasama dengan mengibarkan
panji-panji agama. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini
akan membuat Zending memandang Islam sebagai musuhnya. Dampaknya, semua agama
akan memusuhi Zending.”
Di
bagian lain Kartini menulis, “orang Islam umumnya memandang rendah kepada orang
yang tadinya seagama dengan dia, lalu melepaskan keyakinannya sendiri memeluk
agama lain.” Kenapa?, “karena yang dipeluknya agama orang Belanda, sangkanya
dia sama tinggi derajatnya dengan orang Belanda.”
Sebuah
opini yang lugas bahwa kristenisasi berjalin erat dengan westernisasi dan
penanaman nilai-nilai yang memandang rendah bangsa sendiri dan memandang tinggi
bangsa penjajah. Masih menurut Ahmad Mansur, Kartini memiliki sikap demikian
setelah memperoleh dan membaca tafsir Al-Qur’an. Kekagumannya pada Qur’an ia
tulis dalam suratnya kepada E.C. Abandenon : “Alangkah bebalnya, bodohnya kami,
kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di
samping kami.” Qur’an ia sebut dengan “gunung kekayaan”.
Sisi
ini yang kurang diperhatikan oleh pegiat emasipasi wanita dan feminisme. Bahwa
Kartini sebagai sosok pembela hak perempuan dapat saja benar adanya, sebagaima
wanita sezamannya Raden Dewi Sartika yang giat memperjuangkan pendidikan,
utamanya pencerdasan kaum perempuan bahkan mendirikan Kautamaan Isteri pada
tahun 1916. Hanya saja, amat berlebihan jika semangat pembelaan hak dan
pencerdasan bangsa ini lantas ditafsirkan sebagai upaya merintis emansipasi,
sebagaimana yang dilihat dari kacamata kaum feminis. Secara adil, seharusnya
mereka juga melihat sosok Kartini sebagai pembela nilai Islam dari serangan
Barat dan perintis pencerdasan perempuan, semua gagasan itu sudah mendapat
landasannya dalam ajaran Islam, bukan dalam ajaran Barat.
Namun
begitu, bagi umat Islam, sikap yang diperlukan sudah benderang. Kita berpijak
dan menjunjung al-Qur’an dan Sunnah. Bagaimanapun sosok sejarah seperti Kartini
sangat mudah mengalami multiinterpretasi, apalagi tidak ada seorang pun yang
terjamin originalitas semua peninggalan intelektualnya di masa lalu, kecuali
Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam. Maka, umat Islam tidak wajar jika
melabuhkan teladannya pada sosok sejarah sepenuh hati. Ajaran al-Qur’an dan
Sunnah mesti tetap menjadi pegangan utama, kacamata satu-satunya memandang
dunia. Dengan kacamata ini, maka tidak ada seorang pun yang maksum, setiap
sosok sejarah memiliki sisi baik untuk diteladani di samping sisi buruk untuk
ditinggalkan. Maka tidak ada satu orang pun yang dapat dijadikan standar kebenaran
menandingi al-Qur’an dan Sunnah.
Oleh
karena itu, alih-alih Kartini, umat Islam memiliki banyak sosok lain dari
gudang keteladanan generasi shahabiyah. Sebut saja Sayidah Aisyah ra, seorang
isteri Nabi Shallawahu ‘Alaihi Wassalam sekaligus narator hadits, intelektual
perempuan sepanjang zaman. Bagi kaum perempuan umat Islam, sosok ini, dan juga
para shahabiyah lainnya, lebih wajar untuk dipanut. Wallahu a’lam.[]
*Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah
Balikpapan
12.42
Iqra Generation Cabang Curup

Posted in:
Islamic Greeting Card by Alhabib



0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda di sini