-IGCC- Ramadhan tinggal menghitung menit Sob. Berikut, setidaknya ada 8 hal yang mesti menjadi renungan buat kita agar Ramadhan kita kelak lebih bermakna. Simak yuk!
Renungan pertama, mari kita renungkan untuk apa Allah menciptakan kita? Jawabannya ada di Adz Dzariyat 56, “Dan tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah untuk-Ku”. Jelas, hikmah penciptaan kita adalah beribadah kepada Allah (dalam makna yang luas). Al Imam Nawawi berkata, “Ini adalah penjelasan yang sangat jelas bahwa mereka diciptakan supaya beribadah pada Allah”. Maka kita harus berusaha menjadi sebagaimana pihak yang diciptakan. Kita sadari bahwa dunia akan habis, tidak kekal. Dunia hanya transit sebelum negeri kekal akhirat. Definisi ibadah bahkan mencakup segala hal yang mendatangkan cinta dan ridho Allah baik ucapan/perbuatan, lahir dan batin. Maka ibadah dikenal 2 macam : mahdhah (murni ibadah) dan ghairu mahdhah (semula bukan ibadah, tapi diniatkan untuk mencari ridha Allah, mendatangkan cinta Allah).
Renungan pertama, mari kita renungkan untuk apa Allah menciptakan kita? Jawabannya ada di Adz Dzariyat 56, “Dan tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah untuk-Ku”. Jelas, hikmah penciptaan kita adalah beribadah kepada Allah (dalam makna yang luas). Al Imam Nawawi berkata, “Ini adalah penjelasan yang sangat jelas bahwa mereka diciptakan supaya beribadah pada Allah”. Maka kita harus berusaha menjadi sebagaimana pihak yang diciptakan. Kita sadari bahwa dunia akan habis, tidak kekal. Dunia hanya transit sebelum negeri kekal akhirat. Definisi ibadah bahkan mencakup segala hal yang mendatangkan cinta dan ridho Allah baik ucapan/perbuatan, lahir dan batin. Maka ibadah dikenal 2 macam : mahdhah (murni ibadah) dan ghairu mahdhah (semula bukan ibadah, tapi diniatkan untuk mencari ridha Allah, mendatangkan cinta Allah).
Renungan kedua: Kita renungkan betapa Allah telah memberikan nikmat usia hingga kita bisa sampai di detik-detik menjelang bulan mulia ini. Di luar sana, berapa rekan-rekan kita yang telah tiada, sedang Allah masih memberikan kita sisa usia. Sebuah kesempatan untuk membawa bekal, untuk taat. Karena umur adalah modal. Waktu seorang muslim sangat berharga. Mari manfaatkan hidup sebelum datang kematian. Kita manfaatkan sehat sebelum sakit, lapang sebelum sempit, kaya sebelum miskin. Orang terbaik adalah orang yang umurnya panjang dan perbuatannya baik. InsyaAllah.
Renungan ketiga: Pentingnya ikhlas. Amal haruslah ikhlas, jika tidak maka percuma, karena Allah takkan menerima. Jadi, perbaiki niat kita. Kalau tidak ikhlas, terlanjur lelah payah tapi tertolak amalnya. “Orang yang mengamalkan suatu amalan lalu dia menyekutukan Aku dengan yang lain, maka aku tinggalkan ia”. Allah hanya menerima amal yang 100% untuk-Nya. Sebuah hadits, yang cukup menampar kita. Tiga kelompok yang dibakar di neraka oleh Allah, “Orang yang mengajarkan ilmu dan pandai membaca Al Qur’an; Orang yang dermawan; Berperang sampai syahid, ketiganya tidak murni niatnya, sehingga wajahnya ditelungkupkan dan diseret ke neraka. Mereka ingin dipuji didengar, atau amal akhirat digunakan untuk meraih dunia.” Para salafusholeh usai beramal selalu merenung, ‘Allah hanya menerima dari orang bertaqwa’. Maka selalu lah mawas diri, introspkesi diri.
Renungan keempat: Banyak berdzikir pada Allah Swt (Al Ahzab 41-42). Satu amalan yang bisa dijadikan
pegangan, “Lisanmu selalu basah dengan dzikir pada Allah”.
Renungan kelima: Ramadhan merupakan bulan Al Qur’an. Karena itu, bacalah dan pelajari Al Qur’an. Terlalu banyak kebaikan dengan Al Qur’an, takkan ada ruginya. Maka, minimal khatam 1 kali selama Ramadhan. Bacalah dengan tartil, perenungan, tidak cepat-cepat. Tidak akan sengsara orang yang menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan hidup.
Renungan keenam: Ramadhan adalah kesempatan berdakwah. Dakwah menjadi warisan akan tugas para Nabi dan Rasul, orang-orang yang berusaha memperbaiki. Ketika Ramadhan, jiwa-jiwa terbuka menerima nasehat. “Sekiranya Allah memberi hidayah kepada seseorang melaluimu itu lebih baik daripada onta merah”. Berdakwah itu lebih bagus, dibanding hanya ibadah diri sendiri.
Renungan ketujuh: Hindari majelis yang sia-sia, tempat yang membuang waktu percuma dan tak ada faedahnya. Karena ini akan menjerumuskan kita pada murka Allah Swt. Isinya hanya ghibah, namimah, berbohong, dll. Sehingga seseorang terlibat dalam maksiat mulut, telinga, dll. Mari perbanyak amal sholeh. Modal kita adalah waktu. “Nikmat yang kebanyakan manusia meremehkannya, yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan”.
Renungan kedelapan: Mari jadikan Ramadhan sarana memperbaiki diri dan orang-orang sekitar. Allah berfirman dalam At Tahrim 6 , “Hai orang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Maka, jadikan Ramadhan sebagai sarana dan waktu untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dengan rasul, dengan orang tua, dengan masyarakat.”
Mari optimalkan amal baik. Semoga Allah selalu memberkahi setiap detik kita,
Ramadhan dan juga seterusnya. –Sumber: Ust Abdullah Shaleh Hadrami- (disadur dari Buletin An-Nahl, terbitan Rumah Quran Bintaro)
15.28
Iqra Generation Cabang Curup
Posted in:
Islamic Greeting Card by Alhabib



0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda di sini