Rabu, 10 Juli 2013

Syukurku, Telah Kau Sampaikan Aku Pada Sayyidus Suhur

-IGC- Dua bulan lalu, masih jelas dalam ingatan, di awal Rajab yang syahdu itu, jutaan muslimin di berbagai belahan dunia khusyuk dalam doanya,

“Ya Tuhan kami, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan

Dua bulan pula waktu yang telah dipergunakan untuk menyambut penghulu segala bulan. Mulai dari membiasakan shalat berjamaah di masjid, meningkatkan intensitas tilawatil quran, hingga berlatih melaksanakan puasa di bulan tersebut.

Rindu itu kini terbayarkan sudah. Semerbak Ramadhan telah memenuhi rumah-rumah, masjid-masjid, pusat perbelanjaan hingga jalanan. Wanginya tercium sudah. Senyum  dan salam bertebaran, Suara lantunan tilawah quran bersahutan. Ada syahdu di sana. Pengajian dan majelis ilmu membludak. Membludak jumlahnya, membludak pula jamaahnya. Stasiun TV berlomba untuk tampil seislami mungkin, turut memeriahkan, meski ada kesan komersiil tentunya.

Sanak-kadang berkumpul. Keluarga menyatu di atas meja makan. Canda, tawa dan riuh mengiringi dentingan suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Kebersamaan yang mahal bagi sebagian mereka yang tersibukkan dengan rutinitas sehari-hari, menjadi anugerah.

Memberi menjadi ringan, uang tak hanya tersimpan. Kotak-kotak amal penuh, lalu lintas transfer rekening meningkat pesat, para eksekutif turut menyisihkan rekening mereka untuk berderma. Lembaga-lembaga amal berlomba-lomba mengumpulkan dana, untuk disalurkan pada yang tak berpunya tentunya. 

Syukurku, terlantun lirih. Tarawih pertamapun terasa syahdu. 

Namun sejenak aku merenung, linglung. Maukah engkau turut dalam lamunanku kawan?
Ada yang aku khawatirkan, kalau-kalau kesan ini hanya sepintas. Hanya dari penglihatan zhahir yang menipu. Semerbak ini memang terlihat bahkan tercium di keramaian, tapi sudahkah ia mewangi di hati-hati kaum muslimin, di hatiku, di hatimu? Sudahkah ia memenuhi ruang-ruang hati yang telah lama mengeras sebab cintanya ia pada dunia? Rabbanaaghfirlaanaa…

Allah, Yaa Lathiif, lembutkan hati-hati kami untuk senantiasa takut padamu.
Yaa Rahman yaa Rahiim, kasihilah kami hingga kami mencintaiMu, mencintai utusanMu, mencintai kalamMu dan mencintai RamadhanMu ini melebihi cinta kami pada dunia.

Bila Ramadhan ini telah wujud dalam zhahirnya, mari kawan jadikan ia sebagai momentum untuk menghadirkan cinta kita pada Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Baca dan resapi KalamNya yang ia titipkan lewat kekasih kita Muhammad Sallallahu alaihi wasallam.

“Allahumma a’inna ‘alaa tilawatil qur-an,
Allahumma a’inna ‘alaa hifzhil qur-an.”

Cinta itu wujud tatkala engkau sibukkan hatimu untuk mengingat-Nya.
wujud cinta itu kala engkau bersegera memenuhi panggilan-Nya.

Allahu a’lam. (Red)

0 komentar:

Posting Komentar

tinggalkan komentar anda di sini

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...