-IGC- Dua bulan lalu, masih
jelas dalam ingatan, di awal Rajab yang syahdu itu, jutaan muslimin di berbagai
belahan dunia khusyuk dalam doanya,
“Ya Tuhan kami, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan Ramadhan”
Dua bulan pula waktu yang telah dipergunakan untuk menyambut penghulu segala bulan. Mulai dari membiasakan shalat berjamaah di masjid, meningkatkan intensitas tilawatil quran, hingga berlatih melaksanakan puasa di bulan tersebut.
Rindu itu kini
terbayarkan sudah. Semerbak Ramadhan telah memenuhi rumah-rumah, masjid-masjid,
pusat perbelanjaan hingga jalanan. Wanginya tercium sudah. Senyum dan salam bertebaran, Suara lantunan tilawah
quran bersahutan. Ada syahdu di sana. Pengajian dan majelis ilmu membludak.
Membludak jumlahnya, membludak pula jamaahnya. Stasiun TV berlomba untuk tampil
seislami mungkin, turut memeriahkan, meski ada kesan komersiil tentunya.
Sanak-kadang berkumpul. Keluarga menyatu di atas meja makan. Canda, tawa dan riuh
mengiringi dentingan suara sendok garpu yang beradu dengan piring. Kebersamaan
yang mahal bagi sebagian mereka yang tersibukkan dengan rutinitas sehari-hari, menjadi anugerah.
Memberi menjadi
ringan, uang tak hanya tersimpan. Kotak-kotak amal penuh, lalu lintas transfer
rekening meningkat pesat, para eksekutif turut menyisihkan rekening mereka
untuk berderma. Lembaga-lembaga amal berlomba-lomba mengumpulkan dana, untuk
disalurkan pada yang tak berpunya tentunya.
Syukurku, terlantun
lirih. Tarawih pertamapun terasa syahdu.
Namun sejenak aku
merenung, linglung. Maukah engkau turut dalam lamunanku kawan?
Ada yang aku khawatirkan, kalau-kalau kesan ini hanya sepintas. Hanya dari penglihatan zhahir yang menipu. Semerbak ini memang terlihat bahkan tercium di keramaian, tapi sudahkah ia mewangi di hati-hati kaum muslimin, di hatiku, di hatimu? Sudahkah ia memenuhi ruang-ruang hati yang telah lama mengeras sebab cintanya ia pada dunia? Rabbanaaghfirlaanaa…
Ada yang aku khawatirkan, kalau-kalau kesan ini hanya sepintas. Hanya dari penglihatan zhahir yang menipu. Semerbak ini memang terlihat bahkan tercium di keramaian, tapi sudahkah ia mewangi di hati-hati kaum muslimin, di hatiku, di hatimu? Sudahkah ia memenuhi ruang-ruang hati yang telah lama mengeras sebab cintanya ia pada dunia? Rabbanaaghfirlaanaa…
Allah, Yaa Lathiif,
lembutkan hati-hati kami untuk senantiasa takut padamu.
Yaa Rahman yaa Rahiim, kasihilah kami hingga kami mencintaiMu, mencintai utusanMu, mencintai kalamMu dan mencintai RamadhanMu ini melebihi cinta kami pada dunia.
Yaa Rahman yaa Rahiim, kasihilah kami hingga kami mencintaiMu, mencintai utusanMu, mencintai kalamMu dan mencintai RamadhanMu ini melebihi cinta kami pada dunia.
Bila Ramadhan ini
telah wujud dalam zhahirnya, mari kawan jadikan ia sebagai momentum untuk
menghadirkan cinta kita pada Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa. Baca dan
resapi KalamNya yang ia titipkan lewat kekasih kita Muhammad Sallallahu alaihi
wasallam.
“Allahumma a’inna ‘alaa
tilawatil qur-an,
Allahumma a’inna ‘alaa hifzhil qur-an.”
Allahumma a’inna ‘alaa hifzhil qur-an.”
Cinta itu wujud
tatkala engkau sibukkan hatimu untuk mengingat-Nya.
wujud cinta itu kala engkau bersegera memenuhi panggilan-Nya.
wujud cinta itu kala engkau bersegera memenuhi panggilan-Nya.
Allahu a’lam. (Red)

08.50
Iqra Generation Cabang Curup

Posted in:
Islamic Greeting Card by Alhabib




0 komentar:
Posting Komentar
tinggalkan komentar anda di sini